Tag Archives: kasih

26 April 2014 – Murah Hati

Baca: I Korintus 13:1-13
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (I Korintus 13:4)

Kasih memberi kualitas dalam pelayanan kita. Ketika Anda memiliki kasih, Anda akan berusaha agar ucapan dan tindakan Anda bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Kasih juga membawa kedewasaan dalam karakter kita. Orang Korintus tidak sabar satu terhadap yang lain, saling menuntut, membiarkan dosa didalam jemaat, dan memicu berbagai masalah karena mereka tidak memiliki kasih. Kualitas apapun yang Anda miliki, semuanya itu tidak ada artinya jika tanpa kasih. Kasih memberi kekekalan dalam hidup kita. Kasih tidak berkesudahan, dan apa yang dilakukan kasih tidak akan berkesudahan.
Firman Tuhan hari ini mengatakan, kasih itu murah hati. Secara sederhana, dapat diterjemahkan, kasih berupaya membangun atau memperbaiki kehidupan seseorang. Kasih memikirkan keberadaan orang lain, bukan sekedar memikirkan dirinya sendiri. Bertanyalah pada diri sendiri, siapa yang dapat saya ‘bangun’ hari ini? Kita semua mempunyai sesuatu untuk memberkati orang lain, berita sukacita, keselamatan dari Tuhan, nasehat, waktu, penghiburan, pemikiran, uang, penghargaan, pelayanan, bantuan dan lain-lain. Manusia diciptakan untuk hidup sosial, saling membantu, saling mengasihi satu sama lain.
Saya percaya Tuhan menempatkan orang-orang disekitar kita sebagai objek kasih.
Mintalah kepada Tuhan cara cara kreatif untuk mengasihi orang lain. Ketika Anda menabur kasih dalam kehidupan seseorang, pada waktunya Anda akan menuai kasih dalam hidup Anda sendiri. TL

TUHAN BERSUKACITA DALAM HAL HAL KECIL YANG DILAKUKAN ATAS DASAR KASIH. D.L.Moody.

25 April 2014 – Pemulihan Kasih

Baca: Yohanes 21:15-19
“Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:17)

Kehidupan orang percaya tidak terlepas dari yang namanya pergumulan hidup. Hal ini terlalu dekat dengan kita, kadang dia datang sendiri tanpa harus diundang, dan sulit untuk cepat selesai dari hidup kita. Pergumulan itu kadang menjadikan iman kita dinamis turun naik.Tetapi sesungguhnya hal itulah yang menjadi penguji komitmen kasih kita dengan Tuhan.
Dari pertanyaan Yesus kepada Petrus sebenarnya punya maksud dan tujuan tertentu yaitu, tentang kasih Petrus kepada Tuhan Yesus. Dia mau supaya kasih Petrus mengalami pembaharuan dan pemulihan karena sebelumnya Petrus sudah meninggalkan komitmennya pada Tuhan untuk melayani. Bahkan bersama dengan teman-teman yang lain untuk menjadi nelayan kembali. Petrus berpikir bahwa Yesus yang adalah gurunya sudah meninggal dan tidak mungkin bertemu lagi dengannya. Rasa putus asa telah menyelimuti hati dan pikirannya, sehingga mempengaruhi kasih dan komitmen awalnya kepada Yesus.
Sebab itu pergumulan yang kita alami sekarang Yesus mau supaya tidak mempengaruhi kasih dan komitmen kita kepada-Nya. Masalah hidup semua mengalaminya, pemenuhan kebutuhan hidup semua orang masih berjuang untuk itu, tetapi jangan membuat harapan dan kasih kita kepada Yesus menjadi Tawar. Yesus bertanya apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan itu berlaku untuk kita juga. JK

APAKAH KITA TETAP MENGASIHI YESUS

22 April 2014 – Memberikan Nyawanya

Baca: Yohanes 15:9-17
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13)

Apa artinya memberikan nyawa kita bagi Kristus dan sahabat-sahabat kita? Perhatikan logika Kristus saat Dia mengajarkan tentang kasih yang penuh pengorbanan. Mula-mula ia berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (12). Kemudian Dia menggambarkan lanjutan seutuhnya dari kasih semacam itu, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (13). Yesus rela mati bagi kita. Maka kita seharusnya bersedia mati bagi Dia dan teman-teman kita. Lalu Dia menambahkan, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (14). Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa kita dapat menjadi sahabat-Nya hanya apabila kita mati untuk Dia. Kita juga menjadi sahabat-Nya jika kita mentaati-Nya. Di hadapan Allah, mentaati-Nya sebagai pengorbanan yang hidup merupakan cara kita memberikan nyawa bagi-Nya (Roma 12:1).
Demikian juga kita tidak harus mati untuk sahabat-sahabat kita, tetapi ada berbagai cara lainnya untuk berkorban bagi mereka, bisa berupa waktu, tenaga, perasaan, uang, dan sebagainya, tergantung pada kebutuhan mereka yang memerlukan kasih kita. Pengorbanan-pengorbanan seperti itu, meskipun tampak sepele, dapat menjadi cara yang luar biasa untuk memberikan nyawa kita bagi sahabat-sahabat kita
Pengorbanan adalah bagian yang integral dari kasih tentu berlaku bagi setiap kita tanpa kecuali. Memang tidak mudah, tetapi Yesus telah memberi teladan pengorbanan kasih yang sempurna. Kini giliran kita untuk mengikutinya. TL

PENGORBANAN ADALAH BAGIAN YANG TAK TERPISAHKAN DARI KASIH

04 Maret 2014 – Beban Yang Berat

Baca: Yohanes 19:16b-22
“Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.” (Yahanes 19:17)

Sompappa Avaradi, setelah menerima Yesus sebagai Juruselamat, dia melayani dengan setia bersama gembalanya di India. Suatu hari, mereka didatangi orang-orang radikal yang menentang kekristenan di daerah itu. Orang-orang tersebut dengan kasar bertanya, ‘siapa pemimpin di sini!?’ Avaradi memandang gembalanya yang sudah tua, namun dia sadar bahwa jemaat yang mereka layani membutuhkan bimbingan dan pembinaan sang gembala. Sehingga Avaradi mengaku sebagai pemimpin. Orang-orang itu menyeretnya keluar dan memukulinya. Ketika polisi datang dan menanyainya, dia bersaksi tentang kasih Yesus, maka polisi itu pun menendang dan memenjarakan dia.
Setelah Yesus ditangkap oleh para prajurit atas perintah imam-imam kepala, mereka mengolok-olok dan memukuli Dia (Lukas 22:63). Meskipun tidak menemukan kesalahan-Nya, mereka tetap menyesah Dia dengan cambuk yang mencabik tubuh-Nya. Setelah tubuh-Nya tercabik, Dia masih harus memikul salib yang berat dari kayu kasar menuju Golgota, tempat penyaliban-Nya. Tubuh-Nya yang sudah lelah dan penuh luka membuat beban yang dipikul-Nya makin bertambah berat. Tetapi karena kasih-Nya kepada manusia berdosa, Dia tetap rela melakukannya.
Avaradi tetap memberitakan Injil dimanapun ia berada, meskipun ada ancaman dan beban berat yang harus dipikulnya. Semua dia lakukan karena kasih Yesus yang dialaminya. Sekarang apa respon Anda dalam menghadapi penderitaan dan beban berat sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Yesus? EJG

BEBAN YANG BERAT TIDAK MENJADI MASALAH JIKA ADA KASIH TULUS YANG MENDASARINYA

15 Februari 2014 – Unggul Dalam Memberi

Baca: 2 korintus 8:1-7
“Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” (2 Korintus 8:7)

2 Korintus pasal delapan dan sembilan berfokus kepada persembahan yang dikumpulkan Paulus bagi orang percaya yang memerlukannya di Yudea. Jemaat Korintus telah sepakat menyumbangkan dana, tetapi lalai melakukannya. Paulus mengingatkan mereka dan sekaligus menjelaskan beberapa prinsip memberi. Bisa saja Paulus mengatakan, “Hendaknya kalian unggul dalam bisnis, unggul dalam olahraga, unggul dalam bidang medis.” Namun yang Paulus katakan, “Hendaknya kamu unggul dalam usaha yang baik ini!” (BIS)
Memang Allah sudah mengaruniakan banyak karunia rohani yang khusus kepada jemaat Korintus. “iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan membantu, dan kasih terhadap kami.” Yesus sendiri mengatakan, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35). Karena itu, pikirkan hal-hal yang membuat orang lain lebih baik, lebih sukses, lebih terhibur, lebih diberkati dan lebih senang.
Pada akhir hidup Anda nanti, apa penilaian orang terhadap Anda? “Orang ini sukses” atau “orang ini kaya-raya,” “dia berhasil dalam hidupnya.” Atau orang menilai Anda, “Selama hidupnya, dia adalah seorang yang suka memberi!” Biarlah itu menjadi harapan kita semua. Anda tidak akan bisa memberikan harta sebelum Anda terlebih dahulu memberi diri sendiri. Ketika Anda menjadi milik Tuhan, Anda mulai mencari kesempatan untuk memberi bukannya dalih untuk tidak memberi. TL

MEMBERI ITU BUKAN SUATU YANG MESTI DIHINDARI, MELAINKAN SUATU KEHORMATAN (Goerge Sweeting)

14 Februari 2014 – Kasih Tanpa Syarat

Baca: Lukas 6:27-36
“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.” (Lukas 16:32).

Joseph Stowell, pimpinan sekolah Alkitab Moody, mengatakan: “Ada terlalu banyak kebencian dan terlalu sedikit belas kasihan, ketika para pengikut Yesus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengutuki musuh mereka, ketimbang berdoa atau menunjukkan kasih kepada mereka, maka mereka kehilangan kredibilitas rohaninya.”
Pendapat Joseph ada benarnya, meskipun sebagian besar orang percaya tahu akan pengajaran Yesus tentang arti kasih yang sesungguhnya yaitu kita mengasihi bukan hanya kepada orang yang baik kepada kita, tetapi kepada musuh kita sekalipun kita harus tetap mengasihi, bukan mengutuki. Bahkan di perikop yang lain Yesus mengajarkan penerapan kasih yang lebih dalam. Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44). Yesus mau kita melakukan kasih yang sebenarnya, sebab Dia sendiri tetap menunjukkan kasih kepada kita meskipun kita sering mengecewakan-Nya. Sudahkah Anda berdoa buat orang-orang yang membenci Anda?
Hari ini adalah hari Valentine, yang kita kenal dengan hari kasih sayang. Apakah kasih yang Anda terapkan selama ini, hanya kasih kepada orang-orang yang baik kepada Anda saja? Jika demikian Anda sama dengan orang yang tidak mengenal Dia, karena Yesus dengan tegas mengatakan, karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Allah adalah kasih, dan kasih-Nya untuk semua manusia. Terapkanlah kasih Yesus. HR

LEBIH MULIA MANA? MENGASIHI ATAU MENGUTUKI ORANG YANG MEMBENCI ANDA

13 Januari 2014 – Keseimbangan Kasih

Baca : Amsal 19:18
“Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18)

Disiplin dibutuhkan dalam mengasihi, karena tanpa disiplin tidak ada penguasaan diri. Kasih tanpa disiplin mengakibatkan anak menjadi manja, liar, tidak normal. Sebaliknya, disiplin tanpa kasih terkesan kejam, keras, kaku dan menimbulkan sakit hati dan anak menjadi berontak. Kasih dan disiplin harus menjadi satu kesatuan karena tanpa disiplin, kasih menjadi tidak tepat atau tanpa kasih, disiplin menjadi salah arah.
Disiplin harus bertujuan untuk mengarahkan, mengendalikan emosinya, menghajar jika melakukan kesalahan fatal dan menegakkan peraturan. Demikian sikap kita dalam mendidik tidak boleh melukai hati, menghancurkan harga diri atau membuat tawar hati. Pukullah anak Anda dengan air mata, jangan pukul untuk melampiaskan kebencian dan kemarahan yang tanpa batas. Prinsip dan orientasi memukul anak adalah demi kebaikannya dalam jalur ajaran Tuhan agar anak tahu mengerti kesalahannya.
Disiplin yang diterapkan dengan baik akan membawa hasil mengasihi, mempercayai, menghargai dan mengerti. Saat berkomunikasi paling baik adalah saat sesudah diberi hukuman, agar perilaku yang tidak baik tidak terulang. Disiplin dalam kasih akan membawa perbaikan, pertumbuhan, perlu diingat cara disiplin disesuaikan dengan temperamen anak kita. Disiplin mencakup segala pengajaran, teguran, koreksi, latihan, tetapi untuk mengembangkan karakter. Orang tua harus berani berkata “tidak” dengan tegas untuk hal-hal yang kurang berguna. Dalam hidup ini banyak tikungan yang berbahaya dan jebakan-jebakan tersembunyi, maka tanpa melatih disiplin akan membuat anak kita lengah, tergoda, terjerumus pada penderitaan yang tidak perlu. YK

JANGAN BERSIKAP LEMAH TERHADAP HAL YANG DAPAT MEMBAHAYAKAN HIDUP ANAK-ANAK ANDA

28 Desember 2013 – Kasih Dan Pengampunan

Baca: I Yohanes 4:7-21
“Saudara-saudaraku yang kekeasih, marilah kita saling mengasihi sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (I Yohanes 4:7)

Ada sepasang kakak beradik sedang berjalan di pantai, sang kakak mendorong adiknya ke pantai dan jatuh ke pasir. Sang adik sedih dan kemudian ia menulis di pasir: “Kakak nakal, dia mendorong saya sampai jatuh.” Beberapa hari kemudian mereka berjalan kembali di sebuah taman, tiba-tiba tanpa sengaja sang adik menyandung sebuah batu dan terjatuh. Kakaknya kemudian menolong dia, membangunkan dan membersihkan luka-luka sang adik. Sang adik merasa senang, lalu dia menuliskan pada sebuah pohon “Kakak menolong saya.” Lalu sang kakak bertanya, “Kenapa waktu kakak mendorong kamu di pantai kamu menuliskan apa yang saya lakukan di pasir? Sedangkan sekarang kamu menuliskan apa yang kakak lakukan di pohon?” Sang adik menjawab “Hal buruk yang kakak lakukan ku tulis di pasir, supaya aku dapat melupakannya, sedangkan kebaikan yang kakak lakukan aku tulis di pohon supaya aku tidak mudah melupakannya.
Dari sini kita belajar bahwa kehidupan ke-Kristenan adalah kita cepat melupakan kesalahan orang lain. Tetapi selalu mengingat kebaikan orang lain. Maukah kita menjadi orang yang berbahagia dan hidup yang berkenan kepada Allah? Belajarlah hidup di dalam kasih. Kasih yang nyata diwujudkan dalam pengampunan kepada orang lain yang bersalah pada kita.
Bila ada orang yang menyakiti hati Anda, segera lupakan kesalahannya. Berbuat kesalahan adalah manusiawi, tetapi memberikan pengampunan pada orang lain adalah rendah hati. Lupakan kesalahan teman Anda, ingatlah kebaikannya. Belajarlah membalas yang jahat dengan yang baik. JK

PENGAMPUNAN ADALAH CIRI KASIH KRISTUS

19 Desember 2013 – Tidak Berhenti Memberi

Baca: 2 Korintus 8:1-15
“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:2)

Di pegunungan Alpen Austria, ada sebuah biara terkenal, namanya biara Maulbronn. Pada tahun 1993, oleh UNESCO, tempat tersebut diangkat sebagai salah satu warisan budaya dunia. Tempat ini terkenal dengan sistem irigasinya. Salah satu yang terkenal adalah sebuah mata air yang keluar dari sisi sebuah bukit. Aliran air tersebut dialirkan melalui sebatang pohon yang bagian tengahnya sudah terlebih dahulu dilubangi, sehingga berbentuk pipa. Batangan pohon tersebut bersambung dengan batangan pohon lain. Begitu seterusnya. Di samping rangkaian batang pohon itu, terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Jerman, yang kurang lebih maknanya, “Jika ada orang yang datang dan meminum air ini, apakah mereka akan berterima kasih? Tapi, tidak apa-apa, bagaimana pun saya akan terus mengalir dan bergemericik. Betapa indahnya hidup saya: Saya memberi dan terus memberi.”
Paulus bersaksi kepada jemaat Korintus tentang kebaikan dan kemurahan jemaat Makedonia. Bagaimana mereka dengan sukacita memberi di tengah-tengah kesukaran dan kekurangan. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengingatkan bahwa mereka lebih kaya dalam segala sesuatu jika dibandingkan dengan jemaat Makedonia (2 Korintus 8:7). Oleh sebab itu, Paulus menghimbau agar jemaat Korintus mau menunjukkan kemurahan dengan memberi bagi saudara-saudara mereka yang berkekurangan.
Moto yang terdapat di mata air biara Maulbronn dan kemurahan jemaat Makedonia menjadi contoh bagi kita semua tentang arti memberi. Sudahkah Anda menerapkan kasih? Memberi tanpa pamrih dan menunjukkan kasih tanpa syarat adalah ciri Tuhan kita. Mari kita teruskan kasih Tuhan itu bagi sesama kita. SP

TIDAK ADA ALASAN BAGI ORANG PERCAYA UNTUK BERHENTI BERBUAT KASIH

15 Desember 2013 – Semua Hanya Untuk-Mu

Baca: Markus 12:41-44
“Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.” (Markus 12:42)

Ada seorang anak yang mempunyai teman bermain yang selalu menemaninya di saat pulang sekolah. Mereka kelihatan akrab dan saling berbagi berkat kalau seorang memiliki lebih. Satu ketika teman yang satu melihat bahwa temannya tidak mempunyai jajan di sekolah. Dia yang merasa ada berniat untuk berbagi dengan temannya, dan juga di rumah dia sudah sarapan, jadi merasa tidak perlu lagi untuk jajan di sekolah hari itu. Dia memberikan dengan sepenuh hati tanpa menuntut apa-apa darinya.
Judul di atas sebenarnya mempunyai makna yang dalam yaitu, satu tuntutan dari kita untuk melepaskan apa yang kita punya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan tanpa harus menuntut apa-apa dari pada-Nya. Kisah seorang janda yang menyerahkan apa yang dimilikinya kepada Tuhan merupakan satu contoh nyata tentang “Semua hanya untukmu.” Janda ini memberikan didasari dengan sesuatu yaitu, “KASIH”. Kasihnya kepada Allah membuat dia mampu memberikan semua yang dari padanya. Betapa pentingnya kata kasih dalam diri tiap orang percaya, karena dengan kasih orang percaya dapat melakukan bahkan memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Rasul Paulus dalam I Korintus 13:13, juga memberikan penghargaan yang paling tinggi terhadap kasih. Jadi betapa pentinya kasih itu bagi kita orang Kristen.
Kehidupan jemaat Tuhan saat-saat sekarang ini jika selalu mendasari apa yang dikerjakannya dengan dasar kasih maka hal itu akan menciptakan satu jemaat Tuhan yang indah di pemandangan Tuhan. JK

SEMUA HANYA UNTUK-MU HARUS DIDASARI DENGAN KASIH