Tag Archives: keselamatan

03 April 2015 – Kemenangan Kematian Kristus

Baca: Kolose 2:13-15
“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberi kemenangan oleh Yesus Kristus. Tuhan kita.” ( I Korintus 15: 57)

Peristiwa kematian adalah peristiwa yang alamiah bagi setiap kita sebagai manusia fana bukan? Tidak ada satu manusia pun yang lepas dari kematian. Misalnya saja, sang penakluk dunia; Aleksander Agung dari Makedonia (356 – 324 sM) meninggal dalam usia 33 tahun karena sakit demam. Aleksander adalah seorang penakluk banyak orang dan bangsa, tetapi dia ditaklukkan oleh demam yang kemungkinan adalah nyamuk malaria. Contoh lain adalah Julius Caesar yang mampu memperluas dunia Romawi hingga Oceanus Atlanticus.Tetapi akhirnya dia meninggal dunia pada 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus dan beberapa senator Romawi.
Menurut dunia kematian Kristus dapat dianggap sebagai suatu kematian yang tragis. Kristus mati di salib dalam usia 33 tahun. Usia yang relatif sangat muda. Namun mengapa Alkitab dan iman Kristen menghayati kematian Kristus yang sangat tragis tersebut menjadi suatu wujud dari karya keselamatan Allah yang sempurna?Jawabannya ialah kematian-Nya menjadi bukti kebenaran bahwa Kristus adalah Tuhan, telah membayar hutang dosa dengan lunas, agar karya keselamatan-Nya di anugerahkan bagi setiap kita. Itu sebabnya rahasia kemenangan kita terletak pada kematian Kristus di kayu salib yang mendamaikan, menebus, menggantikan, membenarkan dan membebaskan kita dari kuasa dosa dan kuasa setan. Sedang maut tidak memiliki kemenangannya.
Sahabat Gandoem Mas, Jumat Agung di peringati sebagai kematian Kristus atas dosa kita. Bagaimana Anda dapat memaknai kematian Kristus yang telah menang atas penebusan-Nya? Saat inilah waktunya Anda bisa menghargai kematian Kristus dengan hidup ber kemenangan atas hidup lama Anda.YN

KEMATIAN KRISTUS MENJADIKAN KITA LEBIH DARI SEORANG PEMENANG

23 Juli 2014 – Pukat Yang Dilabuhkan

Baca: Matius 13:47-50
“Demikianlah pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.” (Matius 13:47)

Salah satu wilayah penangkapan ikan yang terbaik di Israel adalah tepi Danau Galilea. Di mana air sungai Yordan yang mengalir deras membawa tumbuh-tumbuhan untuk menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan. Menurut G. Cansdale, setidaknya ada 24 species ikan yang sudah diidentifikasi di danau yang terkenal itu.
Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pukat yang dilabuhkan di laut kepada para murid-Nya yang sebagian besar berlatar belakang sebagai nelayan di Danau Galilea. Dalam perumpamaan-Nya itu, Yesus menggambarkan seorang yang menangkap ikan dengan menggunakan pukat atau jala. Di butuhkan enam orang atau lebih untuk membentangkan pukat ke laut. Pukat biasanya memiliki ukuran: Panjang 100 meter dan Lebar kira-kira dua meter. Pada saat nelayan membentangkan pukat maka ikan-ikan banyak yang terjaring, baik kecil maupun yang besar. Biasanya ada yang dimakan dan ada yang tidak bisa dimakan. Dan ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Dengan prinsip inilah Tuhan Yesus mengajar para murid mengenai pemisahan yang Tuhan kerjakan sendiri menjelang hari penghakiman nanti. Tugas kita ialah melakukan tugas penjala dengan baik, jangan tawar hati bila ada yang menolak, menghambat atau mengabaikan untuk percaya Yesus. Percaya saja!
Terkadang kita menemui orang-orang yang menyalah gunakan kasih karunia yang di berikan Tuhan. Ketahuilah pada hari terakhir Tuhan sendiri yang membawa pemisahan antara orang benar dan orang fasik atau orang jahat. Pastikan kita tidak masuk ke dalam tempat ratapan dan kertakan gigi. Setialah sampai akhir. Sudahkan Anda mengerjakan keselamatan Anda dengan tekun? YN

PEMISAHAN ORANG PERCAYA DAN FASIK, BENAR DAN JAHAT AKAN DILAKUKAN MENJELANG AKHIR

28 Maret 2013 – Tabir Bait Suci

Baca: Markus 15:33-39
“Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” (Markus 15:37-38)

Tabir yang dibuat oleh Musa karena perintah Tuhan dalam bagian Kemah Suci adalah untuk pemisah antara tempat kudus dan tempat maha kudus (Keluaran 26:33). Para imam hanya akan memasuki ruang maha kudus sekali setahun. Dan yang masuk pun hanyalah satu orang saja, menurut hasil undian yang dilakukan (bandingkan: Lukas 1:8-9). Dan orang yang terpilih untuk masuk akan diikatkan tali pada kakinya, sebab jika sesuatu terjadi padanya maka orang itu akan ditarik keluar. Biasanya ketika seorang imam bertugas memasuki ruang maha kudus, maka para imam yang lain akan menunggu di ruang kudus. Sebab tidaklah sembarangan orang bisa masuk ke dalam tempat itu. Apa lagi pada saat tidak ada imam yang bertugas ke dalam ruang maha kudus tersebut.

Namun Markus memberitahu kita, “tabir Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah” (38). Ini pasti sangat menakutkan bagi para imam yang  melayani di Tempat Kudus pada saat itu, menyaksikan tabir Bait Suci terbuka. Para imam, tidak pernah ada yang berani mengintip ke dalam Tempat Maha Kudus. Tetapi tiba-tiba, pada saat Yesus mengumumkan, “Sudah selesai” dari atas salib, tirai tebal yang melambangkan pemisahan antara manusia dengan Allah itu terbuka oleh kekuatan yang tidak terlihat. Sehingga para imam dapat melihat Tabut Perjanjian yang ada di dalamnya! Tetapi saya percaya mereka tidak akan berani melihatnya karena takut mati.

Melalui perikop renungan hari ini, kita mengetahui bahwa ketika Yesus menyelesaikan misi-Nya, maka kita dapat langsung datang menghadap hadirat-Nya. Dialah anak domba Allah, korban yang sempurna, Imam Besar kita, yang membayar semua dosa dengan darah-Nya yang kudus. Sudahkah Anda menghampiri-Nya? EJG

TABIR PEMISAH SUDAH DIHANCURKAN, DATANGLAH KEPADA-NYA DENGAN SUKACITA

4 Januari 2013 – Kepastian Keselamatan

Baca: Yeremia 29:11-14
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9)

Ketika gereja kami mengadakan pembinaan Alkitab, di hari pertama kami diajukan pertanyaan: “Jika Anda meninggal hari ini, apakah Anda yakin pasti masuk surga? Jika Tuhan bertanya: Mengapa Aku harus mengijinkan engkau masuk surga-Ku? Apakah jawaban Anda?”

Waktu pertanyaan itu disampaikan, saya tidak terlalu memikirkannya, sebab saya yakin dan saya punya jawaban yang pasti. Tetapi sebelum hari itu berganti menjelang jam 12 tengah malam, saya mendapat kabar bahwa seorang teman saya yang masih muda meninggal dunia. Saat itu tiba-tiba pertanyaan di atas muncul kembali di benak saya dan sangat menggugah saya. Ketika saya merenungkannya, saya seolah melihat sanak saudara dan teman-teman saya yang belum menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Di hati saya muncul suatu teguran “Kamu yakin akan keselamatanmu, tapi bagaimana dengan orang-orang ini?” Jujur, hal itu membuat saya menangis.

Tuhan Yesus sendiri menghendaki supaya tidak ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat. Allah merancangkan damai sejahtera dan memberikan hari depan yang penuh harapan bagi setiap orang yang percaya dan menerima-Nya. Tetapi bagaimana mereka percaya kalau tidak mengenal Dia, dan bagaimana orang mengenal-Nya jika tidak pernah mendengar tentang Dia? (Roma 10:14). Karena itu, tugas kitalah memberitakan jalan keselamatan itu kepada setiap orang. Supaya mereka mengenal dan datang mencari Dia serta memiliki kepastian keselamatan. Sudahkah Anda melakukannya? Renungkanlah! EJG
JADILAH PEMBAWA BERITA KEPASTIAN KESELAMATAN

GM 13 Okt 2012 – Melewati Lubang Jarum

Baca: Matius 19:16 – 26
“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum, dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 19:24)

Mayoritas umat Kristiani meyakini, bahwa makna dari ayat tersebut adalah “Amat sukar bagi orang kaya untuk bisa masuk kerajaan sorga, lebih dari unta bisa masuk lubang jarum.” Jikalau maknanya benar begitu, kasihan banget nasibnya orang kaya. Mana mungkin unta bisa melewati lubang jarum? Untuk itu, mari kita bersama merenungkannya. Kepada orang muda itu Yesus menekankan pentingnya “10 Perintah Allah”. Jangan membunuh, hormati orang tua, dan seterusnya. Apa jawab orang muda itu? “Semuanya itu telah kuturuti. Apalagi yang masih kurang?” (Matius 19:20). Lalu Yesus menjawab: “Juallah segala milikmu.” Artinya ia akan jadi orang miskin! Apa responnya? “Pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”
Jadi, arti kaya di sini bermakna ganda. Namun esensinya sama, yaitu merasa kaya di hadapan Allah, atau keangkuhan rohani. Sekarang kami ajak anda membaca Lukas 16:19-31. Makna dari perumpamaan Tuhan Yesus di sini, orang kaya itu adalah orang Farisi, Ahli Taurat, yang merasa kaya di hadapan Allah, karena sudah beribadah, berdoa, bayar persepuluhan, dan sebagainya. Sedang Lazarus adalah “para pemungut cukai dan perempuan sundal”, orang-orang miskin (berhutang besar karena dosa) di hadapan Allah. Maka, maknanya yang hakiki adalah, yang amat sulit masuk Kerajaan sorga bukan orang kaya (uang dan harta benda), tapi orang yang merasa kaya di hadapan Allah, sombong rohani.
Abraham, Ishak dan Ayub adalah orang kaya yang pasti masuk Kerajaan sorga, tanpa perlu diragukan lagi. Orang kaya, tenangkanlah hatimu. Asal Anda beriman pada Yesus Kristus, tulus dan rendah hati, sorga terbuka lebar bagi Anda! GS
BAGI MANUSIA MUSTAHIL, BAGI ALLAH BISA

GM 18 Agustus 2012 – Perubahan Hidup

Baca: Lukas 19:1-10
“Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19:8)

Dalam hal apa kita bisa menilai bahwa seseorang telah mengalami pertobatan? Kita lebih sering menilainya dengan aktifnya dia beribadah, melayani dan sebagainya. Apakah hanya sampai hal demikian orang dapat dikatakan telah mengalami pertobatan? Pertobatan sejati didasarkan pada perubahan-perubahan hidup. Sebagai contoh nyata, kita dapat lihat perubahan hidup Zakheus yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Kekuatiran Zakheus terhadap hidup lamanya yang begitu jahat terhadap banyak orang tidak terbukti. Justru sebaliknya, Yesus dengan sangat gembira bertemu dengannya dan bahkan ingin bekunjung ke rumahnya. Dan kebutuhan besar Zakheus akan kasih, pengampunan dan penerimaan sesama telah ia dapatkan melalui kehadiran Kristus. Pertemuan dan kehadiran Yesus yang singkat, mampu menghasilkan pertobatan bagi Zakheus. Pertobatan yang tidak sekedar diucapkan di mulut, tetapi ia menunjukkan bahwa sungguh-sungguh dirinya diubahkan. Semua masa lalunya dia tinggalkan dan ia melangkah dalam buah-buah pertobatan.

Dunia ini dapat diyakinkan bukan dengah khotbah saja, tetapi oleh perubahan hidup seseorang juga. Inilah yang Tuhan harapkan terjadi dalam hidup setiap kita. “Menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan kita.” Saat kita mengaku bertobat di hadapan Tuhan, kita juga harus menunjukkan perubahan hidup yang nyata. Baik perkataan, pikiran dan perbuatan kita.
Perubahan hidup Zakheus terjadi ketika ia bertemu dengan Yesus. Sudahkah Anda berjumpa dengan Yesus dan mengalami perubahan dalam hidup Anda? Alamilah perjumpaan itu. SK

SEBAGAI ORANG PERCAYA, SUDAHKAH HIDUP ANDA BERUBAH?

GM 9 Agustus 2012 – Belum Tuntas

Baca: Yunus 1:1-17
“Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.” (Yunus 1:15)

Bagi orang Israel, Niniwe merupakan simbol kekejaman bangsa Asyur. Ke sanalah Tuhan mengutus Yunus untuk memberitakan peringatan Tuhan, peringatan yang membukakan peluang bertobatnya bangsa yang dipandang kejam itu.

Bagaimana respon Yunus? Menolak dan tidak rela. Ia berbalik arah dan pergi berlayar menuju Tarsis. Ia mengira dapat melarikan diri dari Tuhan. Bukankah ini suatu perkiraan yang keliru? Jika Yunus tidak rela melakukan pekerjaan yang dari Tuhan, Tuhan pun tidak rela Yunus berbalik arah. Ia segera bertindak. Allah mengirimkan badai, yang oleh masyarakat saat itu diyakini sebagai akibat dosa terhadap Tuhan. Lalu para penumpang kapal memutuskan untuk mengundi siapakah yang bertanggung jawab atas malapetaka ini. Undian jatuh pada Yunus dan ia pun mengakui dosanya.

Melalui perikop ini, kita belajar dua hal. Pertama, mata Tuhan tertuju pada semua bangsa, tidak hanya satu bangsa. Berbeda dengan kita yang selalu mengarahkan mata hanya kepada orang-orang tertentu. Biasanya kepada orang yang kita sukai, hormati dan yang baik kepada kita. Tidak mudah untuk membagikan kasih Tuhan kepada orang yang tidak kita sukai, hormati atau tidak baik kepada kita. Tuhan meminta Yunus dan kita untuk mengasihi mereka yang tidak layak kita kasihi. Kedua, Tuhan belum selesai dengan kita. Seperti Yunus, kita pun masih diberikan kesempatan menerima uluran tangan-Nya. Ada kalanya Tuhan harus mengirimkan “badai” untuk menyadarkan kita. Tetapi, di tengah badai sekalipun, Ia tetap mengirimkan “ikan” untuk menyelamatkan kita seperti Yunus. Ingatlah bahwa Allah belum selesai dengan hidup Anda. Lakukanlah firman-Nya. ES

HATI TUHAN TERTUJU BAGI SEMUA BANGSA