Tag Archives: masalah

10 Februari 2013 – Penundaan Yang Disengaja

Baca: Yohanes 11:1-44
“Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada.” (Yohanes 11:5-6)

Suatu kali dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang, perjalanan saya harus tertunda beberapa jam. Waktu itu saya sangat berharap dapat terbang lebih awal, karena ada seorang teman saya yang meninggal dunia. Saya tiba di bandara sekitar satu jam lebih awal dari waktu keberangkatan yang tercatat di tiket saya. Ketika saya hendak check in, petugas di bandara tersebut menyatakan bahwa tiket saya tidak terdaftar. Dan saya disuruh untuk menghubungi travel agen yang mengeluarkan tiket itu. Padahal waktu itu saya ada di luar kota. Dan ketika saya menghubungi travel agen tersebut, mereka menyatakan bahwa tiket itu resmi, karena tiket itu dikeluarkan oleh penerbangan tersebut secara manual. Dengan hati kesal, saya harus mengurusnya di loket tiket penerbangan tersebut. Di situ saya bertemu dengan seseorang yang mengalami masalah yang sama. Akhirnya saya pun bisa berangkat dengan penerbangan yang berikutnya.

Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus, tetapi, setelah Yesus mendapat kabar bahwa orang yang Dia kasihi itu sakit, Ia tidak langsung menyembuhkannya. Tetapi Ia sengaja menunda dua hari lagi. Sehingga empat hari kemudian barulah Yesus tiba di Betania, kampung Lazarus itu.

Secara pandangan manusia, penundaan yang demikian sangatlah menyakitkan. Namun tidak demikian dengan pandangan Tuhan. Karena dalam penundaan tersebut pun Tuhan sudah merancangkan yang indah. Sehingga apa yang dikatakan Roma 8:28 “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” Melalui penundaan Yesus itu, banyak jiwa yang percaya kepada-Nya (46). Bagaimanakah Anda menyikapi penundaan? EJG

WAKTU TUHAN SELALU YANG TERBAIK BAGI ANDA

2 Februari 2013 – Alamat Yang Benar

Baca: 2 Raja-raja 1:1-8
“Pada suatu hari jatuhlah Ahazia dari kisi-kisi kamar atasnya yang ada di Samaria, lalu menjadi sakit. Kemudian dikirimnyalah utusan-utusan  dengan pesan: “Pergilah, mintalah petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron, apakah aku akan sembuh dari penyakit ini.” (2 Raja-raja1:2)

Pada tahun 1998, saya merantau ke Solo dan tahun berikutnya adik saya perempuan menyusul. Dalam kurun waktu satu bulan adik saya disantet orang dari sulawesi, dari kampung halaman saya. Setelah diusut, akhirnya ketahuan yang menyantet itu kakak dari calon suaminya. Sebab adik saya ikut ke Solo karena tidak mau menikah dengan pria tersebut. Pihak keluarga mereka kecewa, akhirnya mereka menyantet adik saya. Selama seminggu itu suasana sangat mencekam, sehingga setiap hari adik saya meronta-ronta hingga tetangga pun terganggu. Setiap hari ada doa bersama, bahkan memanggil pendeta, tapi adik saya juga tak kunjung sembuh. Akhirnya seorang tetangga menawarkan dukun kepada tante saya. “Panggil dukun aja bu, itu kan seperti dokter spesialis!” Tapi tante saya tetap bersikukuh. Akhirnya Tuhan mengirim pendeta yang spesialis mengusir setan dan adik saya pun sembuh seketika itu juga.

Sebagai orang percaya, tante saya memilih orang yang tepat untuk solusi permasalahannya, sangat berbeda dengan Ahazia. Ketika Ahazia menghadapi masalah, Ahazia bukannya mencari Allah yang benar, justru mencari petunjuk kepada Baal-Zebul. Oleh karena itu Tuhan menyuruh Elia untuk memberitakan firman-Nya kepada utusan raja Ahazia itu. “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Engkau tidak akan bangun lagi dari tempat tidur …” Dan firman yang disampaikan Tuhan melalui Elia itu benar-benar terjadi. Ahazia tidak bangkit lagi dari tempat tidurnya ayat 17.

Sahabat Gandoem Mas, apakah Anda masih setia mencari wajah Tuhan, meskipun situasi Anda saat ini sulit? HR
JANGAN PINDAH KELAIN HATI

31 Januari 2013 – Kemerosotan Iman

Baca: 1 Raja-raja 17:17-24
“kata perempuan itu kepada Elia: Apakah maksudmu datang kemari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1 Raja-raja 17:18)

Di dalam survey terbukti bahwa jutaan orang takut melakukan perjalanan di udara. Padahal, kebanyakan di antara mereka mengetahui data statistik yang menunjukkan bahwa mereka lebih aman berada dalam pesawat daripada di dalam mobil atau bahkan di bak mandi. Para peneliti mengatakan bahwa masalah mereka yang lebih pokok bukanlah karena mereka takut akan kecelakaan. Akar kegelisahan mereka yang sesungguhnya adalah ketakutan bahwa mereka tidak dapat mengendalikan hidup ketika pesawat lepas landas.

Di dalam bacaan hari ini kita akan mengetahui mengapa janda di Sarfat mengalami krisis iman di saat anaknya mati. Pertama, adalah janda ini melupakan Anugrah Allah, di ayat sebelumnya sudah jelas bahwa janda ini di tolong Allah dengan melipatgandakan makanan yang dipunyainya itu dan di situ juga pun ada Elia. Kedua, janda ini menganggap kematian anaknya karena dosa yang diperbuatnya, janda ini merasa dia bersalah dan merasa berdosa kepada Tuhan sampai menyebabkan anaknya mati. Dan lebih tragis lagi, janda ini menuduh Elia datang ke rumah nya untuk menghakimi janda ini. Tetapi Elia menunjukan mujizat kepada janda ini dengan membangkitkan anaknya kembali.

Sahabat Gandoem Mas, kita sebagai orang percaya tidak seperti janda ini yang melupakan pertolongan dan anugrah Allah yang sudah di berikan, kita sebagai orang percaya harus terus beriman dan percaya bahwa Allah akan tetap menolong kita jangan sampai iman kita kendor kepada Allah padahal kita telah melihat anugrah dan pertolongan-Nya yang telah diberikan kepada kita.YEP

DI DALAM PENDERITAAN YANG ANDA ALAMI
TETAPLAH PERCAYA KEPADANYA

25 Januari 2013 – Optimisme

Baca: Roma 8:18-30
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Dalam keadaan depresi seorang pendeta yunior lari menghadap ke pendeta senior dengan maksud untuk mengajukan permohonan pinjam uang untuk kehidupan pribadinya. Pendeta senior bertanya, “Siapa yang kamu layani?” Pendeta Yunior menjawab, “Tuhan Yesus, tentunya, pak!” Tanpa bicara panjang lebar, Pendeta senior langsung mengajak Pendeta yunior, “Mari saya antarkan kamu keterminal, pulang saja, dan berharap saja sama Tuhan Yesus yang hidup!” Sebagai orang Kristen kita seharusnya menjadi orang yang tangguh, tegar, tidak mudah menyerah menghadapi kehidupan ini! Apapun masalahnya!

Sikap pesimis adalah sikap yang melahirkan ketakutan dan tanpa harapan saat keadaan sukar. Iman orang Kristen menjadi tumpul, dan sikapnya menjadi lebih mengasihi diri sendiri dari pada mengandalkan janji Tuhan yang luar biasa. Optimisme seharusnya menjadi ciri utama orang Kristen. Dalam Roma 8:28, kita diingatkan ketika kita mengasihi Tuhan dan mencari maksud-Nya, Ia menjadikan segala sesuatu turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.

Dalam masa sukar, sulit untuk memahami bagaimana sesuatu disebut baik, tetapi Tuhan dalam hikmat-Nya yang abadi tahu apa yang baik bagi kita. Melalui masa masa sukar, Tuhan sedang mendewasakan iman kita, dengan maksud mempersiapkan kita untuk tantangan-tantangan berikutnya yang lebih besar atau sedang memakai kita sebagai suatu teladan untuk memimpin orang lain. Dengan pengertian ini, kita mempunyai alasan untuk tetap optimis setiap saat dalam hidup kita. TL

KARAKTER LEBIH BERHARGA DARI PADA EMAS, KARENA ITU TUHAN MEMBENTUK KARAKTER

20 Januari 2013 – Jangan Menyesali Diri

Baca: Kejadian 45:1-15
“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5)

Kisah Yusuf ini mungkin sudah terlalu sering Anda dengar. Bagaimana dia mendapat mimpi yang sangat luar biasa. Dan oleh karena mimpinya itu saudara-saudaranya semakin membenci Yusuf (Kejadian 37:8) Dan juga iri hati kepadanya. Sehingga ketika Yakub ayahnya menyuruh Yusuf untuk melihat saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba, maka mereka itu pun bermufakat untuk membunuhnya. Mereka berkata “mari kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, … kita akan lihat bagaimana jadinya mimpinya itu (37:20). Tetapi mereka tidak jadi membunuhnya, namun menjualnya ke Mesir sebagai budak.

Setelah di Mesir, Yusuf pun difitnah oleh majikannya dan membuatnya masuk penjara. Sampai pada akhinya Yusuf tampil sebagai penguasa di Mesir dan bertemu dengan saudara-saudaranya yang dahulu menjualnya. Ketika Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya itu, mereka sangat ketakutan dan tidak dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi Yusuf berkata, “janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”

Anda pernah mengalami bahwa orang terdekat Anda menghalangi impian Anda? Atau berusaha mematikan mimpi Anda itu? Namun akhirnya Anda meraih mimpi itu, sedang mereka berada pada lembah kesusahan yang paling dalam. Apakah respon yang Anda akan berikan? Mensyukuri keadaan mereka, atau mengulurkan tangan Anda dengan kasih yang tulus serta memberikan semangat baru? Renungkanlah! EJG
JANGANLAH MENYESALI DIRI KARENA MASA LALU

14 Januari 2013 – Tabib Segala Tabib

Baca: Matius 8: 14-17
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,” (Yesaya 53:4)

Banyak di antara kita belum mengenal dengan benar ‘siapa Allah yang kita percayai dalam Yesus Kristus’, terutama saat menderita sakit-penyakit. Mungkin gambaran kita tentang Allah adalah Allah pemarah dan pembalas dendam yang menimpakan penyakit sebagai ganjaran atas kesalahan dan dosa kita! Bila pengenalan kita akan Allah seperti itu, dapatkah kita terus mempercayai Dia sebagai Allah dan Juruselamat manusia?

Seorang hamba Tuhan dengan bijaksana mengatakan “Sang Tabib Agung” mengetahui kelemahan alamiah kita karena Dia pernah merasakannya, dan mengetahui beratnya beban dosa kita. Oleh karena itu melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Dia telah menebus dan membayar upah dosa dan sakit-penyakit kita yang percaya dan menerima Dia sebagai juruselamat kita.

Kita tahu Tuhan di pihak kita, bersama kita, karena Dia berkata bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5; Rm 8:38-39). Yesus disebut “Imanuel” yang secara harfiah berarti “Allah menyertai kita” (Matius 1:23). Karena itu, marilah kita berdoa seperti ini, “Lepaskanlah aku, ya Allahku, dari pikiran yang sia-sia ini!” Pikiran yang sia-sia itu adalah kita menganggap bahwa Allah kehilangan kebaikan dan kemurahan-Nya karena dosa yang telah kita buat!

Begitu pula dengan tragedi yang terjadi dalam hidup kita, misalnya kematian orang yang kita kasihi. Kita tidak mempunyai jawaban yang cukup memuaskan atas berbagai masalah hidup yang menyakitkan seperti itu. Meskipun penderitaan dan tragedi membuat kita bingung, kita tetap dapat mempercayai bahwa Allah ada di dekat kita dan sedang melaksanakan maksud-Nya. Bagaimana dengan Anda? TL

BADAI HIDUP MEMBUKTIKAN SEBERAPA KUAT SAUH KITA DI DALAM DIA

GM 4 Okt 2012 – Tak Kenal Mundur

Baca: Yakobus 5:7-11

“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yakobus 5:11)

Kisah pebasket NBA keturunan Taiwan, Jeremy Lin, yang tiba-tiba jadi bintang pujaan Amerika Serikat dan dunia. Semula ia tak dianggap oleh klub-klub NBA yang dilamarnya. Statusnya sebagai lulusan Harvard University. Meskipun catatan karier basketnya selama jadi mahasiswa meyakinkan, berlaga di NBA perlu karakter yang berbeda. Waktu berlalu, akhirnya New York Knicks bersedia menerimanya. Itu pun karena para pemain bintang klub ini sedang cedera. Pada 4 Februari 2012 Lin menjalani hari pertama berlaga di NBA. Tak ada yang menyangka kalau ia bisa melakukan hal yang luar biasa. Ternyata itu bukan kebetulan. Pada pertandingan berikutnya ia pengumpul poin besar bagi timnya. Bahkan Ia menjadi penentu kemenangan timnya dengan tembakan tiga angka hanya 0,5 detik sebelum waktu pertandingan habis. Sejak saat itu banyak tokoh-tokoh dunia menjadi pengagumnya, termasuk pengusaha muda pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Jeremy Lin punya filosofi yang membuat dia selalu tegar, katanya: “Penderitaan menghasilkan karakter, karakter menghasilkan harapan, dan harapan tak pernah mengecewakan kita”
Jerimy Lin bertekun sampai ia mendapatkan hasil dari ketekunannya. Demikian hal dalam nas renungan pagi ini, kita harus bersabar sampai datang pertolongan Tuhan. Seperti seorang petani tetap sabar dalam menanti hasil ladangnya, demikian juga Ayub bersabar dalam penderitaannya dan Tuhan memulihkan keadaannya empat kali lipat dari yang ia punya sebelumnya
Mungkin Anda saat ini sedang dalam keadaan menanti sebuah jawaban dan kelihatannya tidak ada harapan bersabarlah pastikan Tuhan akan datang menolong Anda. HR
ANDA AKAN DISEBUT ORANG BERBAHAGIA JIKA ANDA TETAP BERTAHAN DAN TIDAK MUNDUR

GM 20 Agustus 2012 – Teguh Berdiri

Baca: Mazmur 71:1-24
“Bagi banyak orang aku seperti tanda ajaib, karena Engkaulah tempat perlindunganku yang kuat.” (Mazmur 71:7)

Khalil Gibran, mempunyai pengalaman hidup yang pahit. Pada usia 9 tahun tulang bahunya patah akibat jatuh dari tebing dan harus berbaring selama berbulan-bulan dengan kedua lengan terikat seperti salib untuk memulihkan tulangnya kembali. Pada usia 18 tahun Gibran pindah ke Paris untuk belajar melukis. Namun setahun kemudian ia harus pulang kembali karena adiknya meninggal. Belum genap satu tahun, kakaknya yang merupakan pencari nafkah dalam keluarga, juga meninggal. Empat bulan kemudian ibunya meningal. Ia harus hidup bersama adiknya. Untuk menyambung hidup ia menjual lukisan. Pernah suatu waktu ketika harus memamerkan lukisannya, ruang pameran dan semua lukisan Gibran terbakar habis. Namun Gibran bersaksi justru luka-luka penderitaan itulah yang membuatnya menjadi bijak. Ia selalu merenungkan mengikut Tuhan itu harus pikul salib (Lukas 9:23). Pada usia 40 tahun penyakit kronis menimpanya. Namun dalam penderitaan tersebut ia makin produktif dan terus berkarya.

Banyak orang merespon penderitaan dengan sungut-sungut, tetapi justru Gibran terus menghasilkan sesuatu yang menjadi berkat bagi banyak orang. Oleh sebab itu pemazmur berkata bahwa kekuatannya terletak di dalam Tuhan. Bahkan hidupnya menjadi kesaksian yang ajaib, karena dalam keadaan apapun orang yang berharap pertolongan Tuhan akan merespon setiap masalah dengan benar. Dengan kata lain, masalah apa pun boleh terjadi, tetapi orang yang perlindungannya adalah Tuhan akan tetap teguh berdiri.
Har-hari ini Anda mengalami banyak persoalan? Berhentilah kecewa dengan segala keadaan yang Anda alami. Tetaplah teguh, sabar dan tabah menghadapi masalah. SP

BERSANDARLAH PADA BATU KARANG YANG TEGUH, YAITU TUHAN YESUS YANG HIDUP

GM 13 Agustus 2012 – Keindahan Gurun

Baca: Keluaran 15:22-27
“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.” (Lukas 4:1)

Gurun adalah tempat yang tidak menyenangkan, bukanlah tempat yang ditumbuhi rumput hijau dengan air tenang, bukan tempat tinggal yang nyaman dan hangat bukan tempat dimana sumber makanan melimpah. Melainkan tanah yang tandus dengan hamparan pasir yang sangat luas dan jarang mata air, juga suhu yang sangat ekstrem.

Namun padang gurun bagi orang percaya adalah suatu gambaran ujian dalam hidup ini. Seperti bangsa Israel yang telah berhasil menyeberangi Laut Teberau dengan mujizat Tuhan. Mereka langsung diperhadapkan dengan padang gurun, selama tiga hari melewatinya mereka tidak mendapat air. Begitu mendapatkan air mereka senang sekali meskipun airnya pahit (mara). Bahan makanan yang mulai menipis, ancaman binatang buas, akhirnya membuat mereka bersungut-sungut. Karena mereka tidak lagi dapat melihat keindahan di balik padang gurun seperti air yang pahit menjadi tawar, adanya 12 mata air dan 70 pohon kurma, adanya burung puyuh dan roti manna, juga penyertaan Tuhan dalam wujud tiang awan dan tiang api.

Sahabat Gandoem mas, sering kita hanya melihat “padang gurun” dari sisi negatif dengan pandangan mata jasmani kita. Tetapi, jika kita dapat melihat persoalan hidup ini sebagai sesuatu yang indah, dan kita berserah penuh pada Tuhan, maka kita akan lebih lagi mengenal rancangan-Nya yang besar dalam hidup kita. Kita tidak dapat menerima yang baik saja dari Tuhan, dan menolak yang kurang baik. Tetapi, kita harus belajar memiliki iman seperti Ayub. Rela menjalani ujian iman yang berat sampai mendapat berkat yang luar biasa. Ia tidak menyalahkan Tuhan, tetapi berjalan dalam rencana-Nya. Anda siap mengikuti jejaknya? CHS

BERSAMA TUHAN PADANG GURUN PUN JADI INDAH

GM 12 Agustus 2012 – Dipaksa Memikul Salib

Baca: Markus 15:16-32
“Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” (Markus 15:21)

Pernahkan Anda dipaksa melakukan sesuatu? Bagaimana perasaan Anda pada saat melakukan sesuatu yang sebenarnya Anda tidak suka melakukannya? Biasanya perasaan kita menjadi jengkel, marah dan juga bersungut-sungut bukan?

Simon, orang Kirene, yang baru saja datang dari luar kota, dipaksa untuk memikul salib Tuhan Yesus sampai ke Golgota. Tahukan Anda bagaimana perasaan Simon pada saat itu? Pada awalnya Simon juga merasa terpaksa dan menggerutu, “Kenapa harus saya memikul salib orang itu? Padahal saya tidak kenal Dia sama sekali, saya masih sangat capai baru pulang dari luar kota. Tetapi seiring perjalanan setengah terpaksa memikul salib Yesus itu, pengenalannya terhadap pribadi Kristus bertumbuh, secara perlahan dia mengagumi pribadi Kristus. Beban salib itu pun menjadi ringan. Kemudian setelah dia tahu bahwa yang disalibkan itu ternyata Kristus dan telah bangkit dari kematian, dia baru sadar kalau salib yang terasa berat dan merasa terkapaksa dipikul itu menjadi satu kehormatan yang tidak ternilai dalam hidupnya. Hal itu terbukti dari kedua anaknya yakni Simon Aleksander dan Rufus akhirnya menjadi pengikut Kristus karena bapaknya mengenalkan mereka pada Kristus yang salibnya pernah dipikulnya.

Dalam perjalanan iman kita, seringkali kita dihadapkan pada posisi tidak bisa memilh, dimana kita terpaksa memikul salib. Janganlah menggerutu, jangan bersungut-sungut, percayalah pada akhirnya kita akan tahu manfaatnya nanti, kita akan menjadi kagum akan hal yang pernah kita lakukan. Percayalah! GMsr.

TAK ADA ANUGERAH TANPA SALIB, JUGA MUJIZAT TANPA KESULITAN