Tag Archives: panggilan hidup

27 Maret 2013 – Berani Melakukan KehendakNya

Baca: Markus 14:3-9
“Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.” (Markus 14:8)

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita tentang sakit penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai obat dan saran-saran dokter sudah dilakukannya, namun tidak memberi dampak banyak terhadap sakit penyakitnya. Justru pernyataan bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Pada awalnya ia takut dan bahkan berontak terhadap fakta tersebut. Setelah beberapa waktu, ia pun belajar untuk menerima realita yang terjadi di dalam hidupnya. Mengetahui bahwa hidupnya tidak lama lagi, ia pun mencoba membuat hidupnya yang singkat itu lebih bermakna. Ia kemudian mendatangi semua teman-temannya untuk meminta maaf, jika ada kesalahan yang telah dibuat. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan menyembuhkan sakitnya dan memakainya untuk melayani Tuhan.

Perlu proses untuk menerima kenyataan pahit dalam kehidupan kita. Jika pengalaman teman saya kita alami, mungkin kita pun juga perlu waktu untuk menerima dengan lapang dada kenyataan hidup. Seorang yang sanggup menerima realita hidup dengan sukacita tanpa protes apa pun adalah Yesus. Dalam kemahatuhuan-Nya, Ia tahu bahwa waktunya tidak lama lagi Yesus diserahkan untuk disalib. Pengurapan minyak seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya dalam perikop kita hari ini meneguhkan akan rencana Bapa dalam Yesus. Tetapi dengan penyerahan total Yesus menerima kehendak Bapa tersebut.
Melalui renungan kita hari ini saya berdoa setiap kita belajar seperti Yesus. Berani menerima kehendak Tuhan dalam hidup kita, meskipun itu pahit. Satu hal yang harus kita percaya, bahwa semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita. SP

MEMPERSILAHKAN TUHAN MEMAKAI KITA, MERUPAKAN SIKAP PENYERAHAN DIRI KEPADA TUHAN

24 Maret 2013 – Menjadi Penuai

Baca: Yohanes 4:31-42
“Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.” (Yohanes 4:38)

Dr. George Richie pernah mengisahkan saat ia mati dan rohnya meninggalkan tubuhnya. Ia bertemu Tuhan, kemudian Tuhan membeberkan kehidupannya yang sia-sia dan tidak digunakan bagi kemuliaan Tuhan. Untung, Tuhan memberi hidup lagi kepadanya dan kontan saja ia mengubah gaya hidupnya untuk menjadi seperti yang Tuhan mau. Profesi dokternya dipakainya sebagai alat untuk melayani Tuhan sampai akhir hayatnya.

Sungguh mencengangkan melihat orang yang berani menghadapi rintangan, menerobos hambatan untuk menjual jasa dan barang. Mereka mengejar mobil, berlari menjual makanan, menggendong barang  sambil mengetuk dari satu pintu ke pintu lainnya, pasang spanduk dan umbul-umbul, menyebar brosur, mengadakan pameran untuk memperoleh lebih banyak uang.

Sayangnya sedikit sekali perencanaan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Ketika Anda membaca renungan ini, mulailah berdoa untuk menceriterakan kasih Kristus ketika Anda di bus, di kereta, antri di bank, jalan di mal, di pasar, di ruang tunggu airport dan sebagainya. Karena apapun profesi Anda: polisi, petani, guru atau pengusaha, pendeta atau jemaat, jika tidak betul-betul berusaha menuntun orang kepada Kristus, maka kita tidak melakukan tugas bagi Allah.  Banyak yang tidak punya waktu bagi Allah, tetapi bisa ke mal, bisa piknik, tour, mancing, nonton sepakbola, arisan tiga kali seminggu, lihat Opera Van Java tiap hari, padahal dunia sedang sekarat dan sedang menanti uluran tangan Anda sebagai orang Kristen.

Bangunlah hai umat Tuhan, tunaikan tugasmu sebagai penuai jiwa karena di tanganmu terletak nasib kotamu. BAS

SEJAUH MANA ANDA BERGUNA BAGI SESAMA ANDA, SEJAUH ITU PULA KEBESARAN ANDA

22 Februari 2013 – Penuhilah Panggilanmu

Baca: 2 Timotius 4:1-8
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:5)

Malala Yousafzai adalah seorang remaja putri Pakistan yang ditembak Taliban pada 9 Oktober 2012. Taliban melarang keras bagi anak perempuan untuk mendapat akses pendidikan, dan telah membakar sekolah khusus bagi perempuan di Lembah Swat. Malala dengan berani menyuarakan tindakan brutal Taliban tersebut melalui blog BBC saat ia masih berusia 11 tahun. Dia pun menyadari bahwa tindakannya itu dapat menghilangkan nyawanya sewaktu-waktu. Tetapi ia memutuskan menjadi pejuang pendidikan bagi kaum perempuan di daerahnya untuk melawan kebodohan.

Firman Tuhan berkata, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya… kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!“ (2,5). Hal ini menegaskan bahwa apa pun situasinya, apa pun tantangannya, sebagai orang percaya yang sudah menerima keselamatan, maka kita haruslah memberitakan firman keselamatan itu. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat… Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:7-8).

Malala berjuang demi kesamaan hak untuk mendapatkan akses pendidikan bagi kaum perempuan pun menghadapi tantangan yang luar biasa, tapi tetap melakukannya. Kita sebagai pengikut Kristus diberikan tugas yang lebih besar, yaitu merebut jiwa-jiwa yang sedang antri menuju neraka. Dan tantangannya pun pasti lebih besar, karena Iblis tidak akan menyerahkannya begitu saja. Tapi ingatlah bahwa Tuhan Yesus menyertai Anda sampai akhir zaman. Sudahkah Anda memenuhi panggilan Allah itu? Lakukanlah! EJG

LAKUKANLAH PEKERJAAN PEMBERITA INJIL DAN TUNAIKANLAH TUGAS PELAYANANMU

6 Februari 2013 – Wartakan Hidup Anda

Baca: Kisah Para Rasul 26:24-32
“Jawab Agripa: Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” (Kisah Para Rasul 26:28)

Seorang ilmuan bernama Thomas Huxley (1825-1895) sangat mendukung teori Evolusi. Sehingga ia mendapat julukan “Buldognya Darwin.” Sebagai seorang agnostik, ia percaya bahwa agama adalah takhayul yang berbahaya. Suatu hari Huxley bertanya kepada seorang Kristiani yang sangat taat, “Apa arti imanmu?” orang itu tahu bahwa Huxley adalah orang yang berpendidikan. Dengan tulus hati, orang itu menceritakan arti Yesus bagi dirinya. Huxley begitu tersentuh dan tidak mampu mendebatnya, dengan tulus ia berkata, “Saya kagum akan iman Anda kepada Yesus.”

Kisah di atas memberi pelajaran bahwa pendidikan atau kepandaian seseorang tidak dapat menghalanginya untuk mengenal Allah yang benar. Demikian halnya ketika rasul Paulus berdiri di hadapan raja Agripa untuk menceritakan kesaksian hidupnya yang diubahkan oleh Yesus Kristus. Raja Agripa sangat tersentuh ketika mendengarnya. “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Ketahuilah, kesaksian sederhana tentang hidup Anda yang telah diubah Kristus, dapat dipakai Allah sebagai sarana yang efektif untuk menggugah hati orang lain supaya mereka percaya. Terkadang kesaksian hidup kita yang telah mengalami perjumpaan dengan Kristus secara pribadi, lebih efektif daripada penjelasan ilmiah. Berapa banyak orang disekeliling Anda yang membutuhkan kesaksian hidup Anda? Bukan melalui perkataan, tetapi melalui teladan hidup Anda.

Sahabat Gandoem Mas, jangan pernah ragu ketika Anda berhadapan dengan sesama untuk menceritakan arti Yesus Kristus di dalam hidup Anda. Sudahkah Anda mewartakan kesaksian hidup Anda? Belum terlambat jika Anda bersedia memulainya.YN

JIKA ANDA DIBERI KESEMPATAN, CERITAKANLAH KARYA KRISTUS DI DALAM HIDUP ANDA

5 Februari 2013 – Menyukakan Allah

Baca: 1Tesalonika 2:1-12
“Maka kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” (1Tesalonika 2:4)

Ketika rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Tesalonika, ia mengawali suratnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan karena pekerjaan iman mereka, usaha kasih mereka, dan ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan (1Tesalonika 1:3). Kita tidak mungkin memaksa orang lain menjadi seperti diri kita sendiri, sekalipun orang itu anak kita sendiri. Dalam hal ini kita tidak mempunyai otoritas. Biar setiap orang menjadi seperti yang Tuhan kehendaki bagi dirinya masing masing. Bukan seperti yang kita mau! Sebaliknya, kita juga tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Apabila kita berusaha untuk menyenangkan semua orang, kita akan capek dan bingung sendiri. Kepada siapa Anda mengabdikan hidup Anda selama ini? Rasul Paulus mengatakan, “Apabila kamu menyerahkan diri kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu ..” (Roma 6:16). “Tetapi syukur sekarang kamu adalah hamba kebenaran” (19).

Sebab panggilan hidup kita di dunia ini bukanlah untuk menyukakan manusia, tetapi menyukakan Tuhan. Karena itu, standar atau ukuran sikap dan perilaku kita harus berpusat kepada firman Tuhan. Dengan demikian kita menyukakan Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus, “Maka kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita” (1Tesalonika 2:4).

Ketika kita menyukakan Tuhan, maka kita beroleh buah yang membawa kita kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. (Roma 6:22). Kepada siapa Anda menghambakan diri? TL

PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MENYUKAKAN TUHAN

GM 1 Okt 2012 – Menjadi Teladan

Baca: I Tesalonika 1:2-10
“Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.” (1 Tesalonika 1:4)

Ketika rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Tesalonika, ia mengawali suratnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan karena pekerjaan iman mereka, usaha kasih mereka, dan ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan (ayat 3). Dengan kata lain, jemaat Tesalonika telah menjadi teladan bagi semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. (1 Tesalonika 1:7) Yang menjadi tolok ukur iman kita, adalah: Bagaimana orang melihat hidup Anda? Apakah mereka melihat kasih Allah di dalam diri Anda? Apakah mereka melihat perubahan dalam hidup Anda? Apakah mereka melihat Anda sebagai pengikut Kristus yand sejati? Bagaimana kesaksian hidup Anda melalui perkataan dan perbuatan Anda setiap hari?

Ketika kita menerima kasih Allah, kasih itu akan merubah kehidupan kita. Kasih itu akan memberi dorongan kepada kita untuk berubah hari demi hari dalam kehidupan kita. Kasih itu membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi. Kasih Allah itu nyata dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita! Dan yang terutama, kasih Allah melalui hidup Anda akan menarik orang- orang datang kepada Tuhan! Kasih-Nya nyata dalam hidup Anda, ketika Anda mengikuti perintah-perintah-Nya dan kemudian ketika Anda menyatakan kasih-Nya kepada orang lain! (1 Yohanes 2:3-4).

Sudahkah Anda menjadi teladan bagi keluarga, tetangga, dan komunitas Anda? Tanyakan pada diri Anda seniri. Jika belum, mari berubah sekarang dan jadilah teladan bagi semua orang di mana pun Anda berada. TL
PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MEMBERIKAN KEMULIAAN BAGI TUHAN