Tag Archives: pilihan

06 Januari 2015 – Menuntut Pilihan

Baca: Yohanes 1:1-18
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (Yohanes 1:12)

Seorang guru membuat sebuah permainan dengan cara menggunting selembar kerkas menjadi beberapa bagian, potongan kertas tersebut tidak sama dengan jumlah murid yang ada. sang guru berkata: ambil potongan kertas di atas meja, satu orang satu potong!. Ada murid yang antusias dengan cepat mengambil potongan kertas yang besar, tetapi ada juga murid yang dengan santainya mengambil potongan kertas tersebut, bahkan ada yang menitip suapaya temannya yang mengambil untuknya. Hasilnya yang bermalasan tidak kebagian potongan kertas tersebut.
Sebelum Yesus datang ke dalam dunia ini, jauh sebelumnya Yohanes telah menyiarkan atau menyaksikan bahwa sang juru selamat itu akan datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari hukuman maut atas dosa-dosa mereka. Dikatakan: “ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Yohanes 1:7”. Sekalipun Yohanes telah memberikan kesaksian tentang sang juru selamat yang akan datang tersebut, tidak semua orang mau percaya, bahkan ketika Yesus datang, dunia tidak menerima-Nya, ayat 10.
Pilihan selalu terjadi dalam kehidupan ini. Dari bangun tidur sampai sampai kita tidur kembali, sepanjang hari kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang ada, apakah pilihan yang baik bahkan pilihan yang membuat kita jauh dari Tuhan. pada kesempatan ini kita belajar bagaimana kita meresponi setiap pilihan yang tejadi dalam keseharian kita. kehendak Tuhan dan tawaran dunia selalu bertentangan. Pilihan ada di tangan anda, apakah kehendak Tuhan atau keinginan dunia yang anda pilih. DN

AMBILAH PILIHAN DALAM HIDUP ANDA APAPUN RESIKONYA, BAHKAN BERDIAM DIRI ITUPUN PILIHAN

29 November 2014 – Memilih Jalan Kehidupan

Baca: Ulangan 30:11-20
“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.” (Ulangan 30:19)

Kepada kita akan selalu diperhadapkan pilihan-pilihan; maju atau mundur, berkata jujur atau berbohong, berlaku setia atau berkhianat, memberikan bantuan atau tidak ambil peduli, mengumpat atau menahan diri, dan sebagainya. Apa yang kita pilih itu bisa jadi akan sangat menentukan cerah suram, senang susah, baik buruknya kehidupan kita pada masa depan.
Dalam pidato perpisahannya, Musa juga menghadapkan pilihan kepada umatnya; kehidupan dan keberuntungan, atau kematian dan kecelakaan (ayat 15). Pilihan apa pun ada risikonya, baik atau buruk. Musa menasihatkan supaya mereka memilih apa yang baik dan benar, sehingga mereka dapat memetik buah yang manis (ayat 20). Ini bisa menjadi panduan buat kita ketika kita harus memilih: kapan pun dan dalam hal apa pun, pilihlah apa yang berkenan kepada Allah. Orang yang memilih untuk mengasihi Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya, sudah jelas masa depannya: “hidup” (19). Anda juga memilih melalui kata-kata. Anda dapat memberkati masa depan atau bahkan mengutuk masa depan Anda sendiri melalui kata-kata Anda.
Kata-kata Anda mempunyai kuasa kreatif.
Jikalau Anda ingin mengetahui bagaimana hidup Anda lima tahun kemudian, perhatikan kata-kata Anda hari-hari ini khususnya terhadap diri Anda sendiri! Jangan mengeluarkan kata-kata negatif, seperti, “Aku tidak akan pernah beruntung!”; “Aku tidak akan bisa melunasi hutang-hutangku”; “Penyakit flu sedang merajalela saat ini!” Mari memilih jalan kehidupan. TL

HIDUP MANUSIA BUKAN BERGANTUNG PADA NASIB TAPI TERGANTUNG PILIHAN SENDIRI

11 September 2014 – Ucapan Membawa Berkat

Baca: Rut 1:8-17
“Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!.”(Rut 2:19)

Tahukah Anda ungkapan, “Mulutmu adalah harimaumu.” Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa segala sesuatu yang telah terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan terlebih dahulu akan merugikan diri sendiri. Karenanya kita haruslah bijaksana dalam bertutur kata dengan sopan dan santun.

Dalam kisah Naomi dengan menantunya, ia sangat bijak di dalam berkata-kata. Hal tersebut dapat kita lihat melalui perkataannya kepada menantunya, “TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.” (Rut 1:8-9). Setiap ucapan yang diberikan kita cermati penuh pertimbangan, positif dan ucapan yang membawa berkat. Naomi menginginkan hal yang terbaik terjadi dalam hidup mereka, sehingga tidak heran kedua menantunya sangat menghormati mertuanya itu. Bahkan Naomi juga mengucapkan berkat bagi orang yang dipakai Tuhan menjadi saluran berkat bagi dirinya dan menantunya (Rut 2:19). Dari ucapan atau perkataan kita maka orang disekitar kita menjadi respek atau sebaliknya tidak menghargai diri kita. Ucapan berkat selalu menghasilkan kebaikan.

Sahabat Gandoem Mas, Apakah ucapan dari bibir mulut kita lebih banyak ucapan berkat atau syukur, atau cacian, sumpah serapah ataukah kutuk yang keluar? Pilihan ada pada Anda! YN

PERKATAKANLAH BERKAT DAN BUKAN KUTUK, SEBAB ANDA DIPANGGIL MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN

07 Agustus 2014 – Pilihan

Baca: Matius 22:1-14
“Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.” (Matius 22:3)

Allah telah menyatakan ketulusan dan kesungguhan dalam firman-Nya dengan apa yang dapat diterima-Nya, mengundang semua orang dan seharusnya merespon undangan-Nya dengan penuh hormat, tidak asal-asalan, sehingga dapat menikmati apa yang menjadi tujuan panggilan dan pilihan-Nya, yaitu keselamatan kekal dalam Kerajaan Sorga.
Dalam Injil Matius 22:1-14, kita membaca dan merenungkan bersama dimana undangan telah diberikan dan diterima oleh setiap orang, tetapi tidak direspons baik dan dengan berbagai alasan-alasan tidak mengindahkan undangan-Nya, bahkan bertindak anarkis (ay. 3-6). Kemudian mengundang siapa saja yang mau merespon undangan-Nya, tetapi masih ada juga yang tidak layak, tidak berpakaian pesta (ay.8-11) yang akhirnya dicampakkan.
Disini kita mempelajari bagaimana Allah bertindak dengan adil dan tulus dalam mengundang siapa saja. Semua telah disediakan untuk dinikmati, “Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: “Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” (ay.4). Bagaimana respons yang kita tunjukkan sangat mempengaruhi akan hasil yang dinikmati? Oleh karena itu biarlah kita mau merespons undangan-Nya dengan penuh hormat dan menentukan apa yang menjadi pilihan keputusan kita. AK

SEDIKITLAH MENDENGAR PIKIRAN SENDIRI, LEBIH BANYAKLAH KEPADA PIKIRAN & PILIHAN ALLAH

14 Juni 2014 – Temporary Or Permanent

Baca: II Korintus 4:16-18.
“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (II Korintus 4:18.)

Berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang wajar dan tidak ada salahnya, namun saat ini apa yang kita cari dan kejar sebagai orang yang beriman dalam Tuhan Yesus Kristus, apakah dalam pengiringan kita kepada Kristus hanya berpusatkan pada perkara-perkara lahiriah semata-mata atau apa yang akan kita nikmati saat ini akan membawa kita lebih lagi hingga kepada kehidupan kekal dalam Kerajaan Sorga. Karena tidak sedikit dalam kehidupan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus hanya mencari sesuatu untuk dinikmati dalam kehidupan ini, saat dalam kesesakan datang mencari pertolongan dari Tuhan Yesus Kristus, bila doanya dijawab berkata puji Tuhan, bila doa dan harapannya tidak terkabul, menjadi kecewa dan lari meninggalkan iman percayanya.
Pada renungan kita hari ini, kita diajarkan dan diajak untuk tidak hanya berpusatkan pada hal-hal lahiriah yang dapat dilihat oleh mata dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, namun mau menaruh perhatian dan pengharapan kita sepenuhnya kepada Allah pada perkara-perkara yang dapat membawa kita menikmati yang lebih indah dan mulia.
Oleh karena itu, marilah kita mau menjadi pengikut Kristus bukan karena hal-hal lahiriah saja, tetapi tetap bertahan dan kokoh dalam iman kepada Allah, tetap setia dan berharap sepenuhnya untuk mendapatkan upah yang lebih indah dan mulia yang menanti untuk kita nikmati, (Ibrani10:35-36). AK

“…RENCANA TUHAN TETAP SELAMA-LAMANYA…” (Mazmur33:11)

10 Juni 2014 – Cinta Buta

Baca: 2 Korintus 6:14-18
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7).

Kita akan belajar dari kehidupan seorang ibu dengan cara mundur ke belakang. Ibu Yuli (nama samaran) adalah seorang anak Tuhan. Baru saja dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan “suami” keduanya, karena sadar bahwa hubungan itu tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ini bukan hal mudah karena berimbas pada putusnya tunjangan rutin yang biasa dia terima. Sebelum dengan suami yang kedua ini, dia telah bercerai dengan suaminya yang pertama sekitar 10 tahun yang lalu, karena tidak kuat dengan tingkah laku suaminya itu. Mabuk, judi, selingkuh, memukul dan beberapa kebiasaan buruk yang lain, menjadi alasan untuk cerai.
Ketika ibu ini masih berpacaran dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya itu, seluruh keluarga menentang dan tidak menyetujui hubungan mereka. Namun Yuli, sudah terlanjur jatuh cinta. Mereka semua tahu bahwa pemuda kekasih Yuli itu, adalah seorang pemuda yang memang Kristen, namun hidupnya tanpa pertobatan bahkan jauh dari kebenaran dan kekudusan. Namun Yuli yakin, bahwa dia pasti bahagia bersama pemuda pujaannya itu, karena dia sangat cinta. Pokoknya, apapun yang terjadi, Yuli tidak mau kehilangan pemuda itu. Akhirnya keluarga besarnya pun pasrah dengan kekerasan hati Yuli.
Dan hari ini, Ibu Yuli menyadari sebuah kebenaran yang harus menjadi pelajaran buat kita semua, yaitu bahwa ketika kita jatuh cinta, kita harus tetap memperhatikan apakah itu sesuai dengan firman Tuhan atau tidak. Kalau kita tidak peduli, maka itulah cinta buta. Dan ingat bahwa ketika perjalanan cinta dimulai tanpa kehendak Tuhan, tidak ada jaminan sama sekali hidup kita akan bahagia.SW

PILIHLAH PADA HARI INI, YESUS ATAU … ?

16 Januari 2014 – Minder, Atau Optimis

Baca: Matius 25: 14-30
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8a)

Ketika Allah bertanya, siapakah yang siap pergi untuk melaksanakan tugas, Yesaya menjawab: “Ini aku, utuslah aku !” (Yes. 6:8b). Optimis banget! Sebaliknya, waktu Allah berfirman akan mengutus Yeremia, yang satu ini ternyata minder dan menolak (Yeremia 1:4-6). Ratusan tahun sebelumnya, Musa juga menolak panggilan Allah, sehingga Allah murka: “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa …” (Kel. 3:14a). Namun Yosua, ia tidak menolak panggilan Allah yang menetapkan ia menjadi penerus Musa (Yosua 1:1-9).
Ada yang minder, ada yang optimis. Manakah yang benar, seperti Musa dan Yeremia, atau seperti Yesaya dan Yosua? Baik minder maupun optimis, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan, orang minder, mereka tidak angkuh dan kelebihan orang optimis, mereka mau taat. Tapi, keburukan orang minder adalah, sudah menyerah sebelum bertanding. Ini seperti orang yang memendam Talenta, yang bikin Tuannya murka. “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Matius 25:30). Namun di sisi lain, ada bahaya bagi orang yang terlalu optimis. Anda harus benar-benar mewaspadai buku-buku yang menekankan tentang “Positif Thinking”. Karena secara langsung atau pun tidak, Allah disingkirkan. Mengapa? “Karena aku bisa.” Bahaya lainnya adalah over confident, atau “percaya diri yang berlebihan.” Ingat selalu, bahwa kita bisa berbuah, jika melekat pada pokok Anggur yang benar, Yesus Kristus (Yohanes 15:1,2).
Jadi, yang benar adalah: “Bersama Tuhan, aku bisa.” Lakukan semuanya dalam nama Tuhan. (Kolose 3:17). GS

BERSAMA TUHAN KITA LAKUKAN PERKARA BESAR

30 Desember 2013 – Hidup Dalam Berkat

Baca: Ulangan 30:15-20
“Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.” (Ulangan 30:16)

Hidup dalam berkat Tuhan adalah pilihan, bukan suatu keadaan atau takdir bagi kita. Tuhan tidak pernah membuat takdir seseorang diberkati dan yang lain tidak bisa hidup dalam berkat. Firman-Nya menegaskan bahwa berkat Tuhan itu adalah pilihan, bukan suatu takdir bagi kita (ay.16). Percayalah kalau Allah itu adalah Pribadi yang suka memberkati umat-Nya, seperti halnya kita suka menerima berkat dari Tuhan. Tetapi kita harus mengerti juga bahwa Dia hanya memberkati mereka yang hidupnya berkenan kepada-Nya dan yang mempunyai tanggungjawab sebagai orang percaya. Oleh sebab itu, sebelum menerima dan menikmati berkat-berkat-Nya kita harus mencari perkenanan-Nya serta melakukan tanggungjawab tersebut.
Bacaan kita hari ini menjelaskan ada tanggungjawab dari orang yang siap untuk diberkati Tuhan, yaitu: mengasihi Tuhan (ay.16a). Mengasihi-Nya dengan waktu kita, ibadah, korban persembahan, kerinduan untuk selalu menyenangkan hati Tuhan dan hidup yang berpadanan dengan firman Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan adalah orang yang mau mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya (ayat 20,16b). Setiap kebenaran firman Tuhan yang didengarkan harus segera dilakukan dengan kesetiaan dan kesungguhan hati.
Orang yang siap diberkati adalah mereka yang hatinya berpaut kepada Tuhan. Mau mendengarkan perintah-Nya dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Semua perintah-Nya pasti dapat kita lakukan jika kita mengasihi-Nya, maka berkat-berkat-Nya akan senantiasa mengikuti kita. Periksa hati Anda, apakah sudah sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus? YMT

HIDUP DALAM BERKAT ITU PILIHAN; BUKAN TAKDIR