Tag Archives: respon

15 Januari 2015 – Tegoran

Baca: I Raja-raja 1:1-27
“Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: “Mengapa engkau berbuat begitu?” Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom.” (1 Raja-raja 1:6)

Pernahkah Anda mendapat teguran? Tentu, kita semua pernah mendapatkan teguran, karena setiap kita tidak lepas dari kesalahan. Namun, respons dari kebanyakan orang ketika menerima teguran langsung menolak dan berusaha membuktikan dirinya benar. Lebih parah lagi, ada yang malah tidak segan-segan bertindak agresif dengan kemarahan. Padahal kita bisa memberi respons yang lebih baik yaitu dengan berdiam diri dan merenung. Ketika masih remaja, orang tua saya tidak segan-segan memukul dengan rotan jika saya tidak betul-betul merespons teguran dengan baik. Ketika dewasa saya menyadari betapa pentingnya teguran-teguran, karena melalui teguran kita mengetahui apa yang salah.
Kisah Adonia merupakan sebuah contoh bagi kita, bahwa teguran merupakan hal yang penting. Alkitab berkata bahwa selama hidup Adonia, Daud tidak pernah menegurnya (1 Raja-raja 1:6). Ini menunjukkan bahwa Adonia selama hidupnya bebas melakukan apa saja tanpa harus ada yang melarang. Justru sikapnya tersebut telah menjerumuskannya kepada hal-hal yang tidak baik. Mencoba mengkudeta Daud dan mengangkat dirinya menjadi raja. Dan pada puncaknya ia memohon kepada Salomo agar Abisag, gadis perawat Daud di mintanya. Ternyata hal itu tidak berkenan bagi Salomo (1 Raja-raja 2:17). Adonia begitu ambisius, ingin mendapatkan segala sesuatu yang ia ingini.
Melalui kisah Adonia, mari kita menyadari betapa kita tidaklah sempurna. Justru beruntunglah kita jika ada orang-orang yang mau menegur kita sehingga mencegah kita melakukan kesalahan yang berkepanjangan. SP

ORANG YANG MELAWAN TEGURAN AKAN DIREMUKKAN TANPA DAPAT DIPULIHKAN (Amsal 29:1)

31 Desember 2014 – Lupakan “Seharusnya”

Baca: Mazmur 90:1-17
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12)

Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir dalam menapaki tahun 2014. Apa yang kira-kira Anda renungkan diakhir tahun ini? Tentu setiap kita akan menengok hidup masa lalu kita. Dan setiap kita telah melewati banyak hal sepanjang tahun 2014. Ada suka dan duka, kegagalan dan keberhasilan. Tetapi, tidak sedikit orang yang terus menerus dihantui oleh kisah buruk yang terjadi di masa lalu. Memang tidak mudah bagi kita untuk melupakan masa lalu, bahkan terkadang masa lampau itu terus menerus menggangu kita. Merasa bersalah, menyesal, marah, bingung dan tidak tenang. Rasa bersalah itu berkata, “Seharusnya engkau melakukan sesuatu yang lain, Seharusnya engkau mengatakan sesuatu yang lain, Seharusnya engkau mengambil keputusan yang lain, seharusnya engkau memilih yang lain, seharusnya dan seharusnya.” Jika hidup kita terus-menerus memikirkan hal-hal tersebut, maka akan menghalangi kita untuk sepenuhnya menghayati hidup di masa depan. Inilah penghalang kehidupan kita.
Kita tidak bisa mengubah lembaran-lembaran atau masa lalu kita, kita tidak bisa mengubah kenyataan bahwa kita telah bertindak dalam cara-cara tertentu. Kita tidak bisa mengubah hal yang telah terjadi. Tetapi kita bisa belajar bertanggungjawab atas kegagalan tersebut. Charles Swindoll berkata, “Aku yakin bahwa hidup adalah 10 % dari apa yang terjadi kepadaku, dan 90 % adalah bagaimana aku bereaksi kepada apa yang terjadi itu.” Dengan kata lain, setiap kita bertanggung jawab akan sikap-sikap kita.
Oleh sebab itu, satu hal yang perlu kita sadari sebelum memasuki tahun yang baru, bahwa kita memang tidak dapat mengubah masa lalu kita, tetapi kita dapat mengubah sikap-sikap kita yang salah selama ini. Mari menjadi lebih bijaksana. SP

MENJADI BIJAKSANA ADALAH CARA SATU-SATUNYA MENGUBAH CARA HIDUP YANG SALAH

27 November 2014 – Langkah Awal

Baca: Kolose 3:5-17
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. “(Kolose 3:12)

Sering terjadi, ketika sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi! Langsung saja kita ‘tidak terima, mengeluh, bahkan marah’
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengenakan: ‘belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran’. Kita bereaksi karena kita ‘tidak setuju, tidak terima’ atas apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan pribadi. Kedua, kita sering mempersalahkan orang orang tertentu. Dengan perkataan lain, secara tidak disadari kita ‘sudah mulai’ mempersalahkan Tuhan, bukan?
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk jangan cepat cepat ‘tidak terima’ apa yang terjadi, berhenti mencari ‘kambing hitam’ apalagi meragukan dan menyalahkan Allah. Kata-kunci, mari kita merubah paradigma tersebut diatas dengan berani mengoreksi diri sendiri. Mintalah kepada Tuhan untuk ‘merubah cara-pandang’ dari pada minta Tuhan untuk merubah orang lain. Kenapa ketika bangun pagi Anda tidak mendeklarasikan, hal-hal sbb: “Tuhan, terima kasih bahwa aku dapat mengatasi segala sesuatu yang akan terjadi sepanjang hari ini, saya dapat menguasai diri untuk menghadapi bos yang rese. Saya dapat mengatasi kemacetan dijalan. Saya dapat mengatasi apabila rencana saya tidak berhasil seperti yang diharapkan!” “Terima kasih Tuhan, aku mempunyai sikap-iman yang benar bagaimanapun situasi dan kondisi ku hari ini!”
Putuskan hari ini, Anda mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran. TL

MAKSUD SEMUANYA ITU UNTUK MEMBUKTIKAN KEMURNIAN IMANMU (1Petrus 1:7)

16 Oktober 2014 – Ditentukan Untuk Hidup

Baca: Efesus 1:3-14
“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” (Efesus 1:5)

Kata Memilih dalam bahasa aslinya itu, eklegomai {ek-leg’-om-ahee}. Mempunyai tiga pengertian. Pertama, Tuhan memilih untuk Diri-Nya sendiri. Kedua, Tuhan memilih untuk dipisahkan. Tiga, memilih diantara yang lain. Sudah sejak dahulu, sejak jaman sejarah gereja pada abad sebelum kita hidup, banyak orang sudah mempersoalkan pertanyaan Alkitab mengenai pemilihan dan penentuan Tuhan bagi mereka yang selamat. Dalam ayat-ayat tersebut terdapat dua kalimat yang menjadi polemik hebat di sepanjang sejarah gereja dan pergumulan teologi, dua kata itu adalah memilih dan menentukan; Allah memilih dan menentukan orang yang menerima anugerah untuk diselamatkan. Dengan dua kata tersebut, disimpulkan oleh sebagian orang Kristen bahwa Allah telah memilih dan menentukan sejak semula orang-orang yang diselamatkan dan yang tidak, seolah-olah seperti itu.
Tetapi sebenarnya tidak seperti itu, bagaimana pun, jika kita teliti dalam Alkitab, kisah-kisah dipanggilnya orang-orang untuk di pakai Tuhan ada yang mau, tetapi ada juga yang menolak panggilan Tuhan. Alkitab menunjukkan bahwa respons manusia dalam menanggapi anugerah keselamatan juga turut berperan. Tuhan yang memilih dan menentukan dan pihak manusia yang memberi respons terhadap pemilihan dan penentuan tersebut.
Tuhan bisa saja merancang orang untuk di selamatkan, tetapi Tuhan tidak mungkin merancang seseorang untuk binasa, sebab jelas sekali firman Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2 Petrus 3:9). Mari bersyukur atas kasih Tuhan yang menghendaki kita memperoleh hidup kekal. SP

HAKEKAT TUHAN YANG KASIH TIDAK MUNGKIN MERANCANG SESEORANG BINASA

17 September 2014 – Menyalahkan Orang Lain

Baca: Kejadian 3:1-24
“Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Ka utempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12)

Kebiasaan merupakan salah satu sifat yang menjadi bagian kepribadian seseorang. Tentu setiap kita juga mempunya kebiasaan-kebiasaan yang tanpa kita sadari hal itu telah menemani hari-hari yang kita jalani. Namun ada kebiasaan yang ternyata dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, yaitu kebiasaan menyalahkan orang lain. Ketika melakukan kesalahan, kegagalan dan hal-hal yang buruk, maka orang tersebut akan mencari alasan-alasan untuk menyalahkan orang-orang disekitar mereka. Seseorang berkata, Jika Anda menyalahkan orang lain atas apa yang Anda rasakan, Anda justru memberi kekuatan pada mereka bahwa Anda sebenarnya tergantung pada mereka.

Ketika Adan dan Hawa jatuh kedalam dosa, mereka cenderung menyalahkan orang lain. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan secara tidak langsung juga menyalahkan Tuhan, karena menempatkan Hawa disisi Adam (Kejadian 3:12). Begitu juga Hawa, ia menyalahkan ular yang telah mengelabuhinya untuk makan buah terlarang (Kejadian 3:13). Seharusnya respon Adam dan Hawa adalah mereka menyadari akan kesalah dan kemudian bertobat minta ampun kepada Tuhan. tentu hal yang demikian akan lebih bijak.

Sebagai anak Tuhan, seringkali kita pun tidak lepas dari kegagalan dan jatuh bangun dalam dosa. Dalam keterpurukan tersebut, seringkali kita tergoda untuk menyalahkan orang lain. Mari kita belajar bertanggung jawab dan tidak mudah menyalahkan keadaan maupun orang lain. Melihat kekurangan dan mencoba memperbaiki diri adalah cara untuk bangkit dari segala kegagalan. Intropeksi dirilah dalam segala keadaan. SP

SUKA MENYALAHKAN ORANG LAIN MERUPAKAN SIKAP YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB

26 Agustus 2014 – Menyalahkan Orang Lain

Baca: Roma 2:1-16
“Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.” (Roma 2:2)

Seni menyalahkan orang lain, merupakan sebuah kebiasaan yang biasa kita lakukan. Ketika terjadi masalah, maka respons pertama yang seringkali muncul adalah menyalahkan orang lain. Ketika seseorang yang jatuh ke dalam narkoba, kecenderungan orang akan menyalahkan lingkungan dan bahkan perlakuan orang tua yang tidak baik. Padahal, tidak semuanya anak seperti itu. Jika kita tahu, ada orang-orang yang tinggal dalam lingkungan yang tidak baik, bahkan berkumpul dalam keluarga yang tidak harmonis, namun masih dapat mempertahankan karakter yang baik.
Ketika nilai sekolah jelek, kita menyalahkan guru yang galak, padahal kita kurang belajar dengan tekun. Ketika gaji kita tidak cukup, kita menyalahkan atasan yang kurang memberi banyak. Mungkin saja bukan karena gaji yang kita terima kurang, jangan-jangan kita tidak dapat mengelola keuangan dengan baik. Memang paling mudah menyalahkan orang lain atau situasi jika terjadi sesuatu masalah. Padahal menurut penelitian yang dimuat di Harvard Business Review, bermain dalam permainan menyalahkan tidak akan pernah berhasil. Dalam penelitian itu, mereka yang menyalahkan orang lain atas kesalahannya dapat kehilangan status, kurang mendapat pelajaran, dan berperforma buruk dibandingkan orang-orang yang mengakui kesalahan mereka.
Pesan firman Tuhan hari ini, memperingatkan kita bahwa hukuman Allah itu berlaku jujur. Ia tahu mana yang sepatutnya di hukum (Roma 2:2). Oleh sebab itu, mari menjadi orang yang jujur dan berani bertanggung jawab. Tinggalkan kebiasaan yang suka menyalahkan orang lain. Seseorang menulis, jika kita suka menyalahkan orang lain, berarti kita bukan orang yang mengendalikan diri kita sendiri. SP

MENYALAHKAN ORANG LAIN, MERUPAKAN BUKTI ORANG YANG TIDAK MAMPU MEMIMPIN DIRI SENDIRI

13 Agustus 2014 – Mengenal Diri Sendiri

Baca: 2 Raja 5:10-14
“Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku !” (Mazmur 51:13)

Bagaimanakah kita bisa mengerti “keaslian” seseorang? Bukan di saat ia diberkati, bukan di waktu hatinya berbunga-bunga, karena apa yang didambakan tercapai. Hal itu tidak mungkin ! Kita dapat mengenal keaslian seseorang, justru di saat orang itu terjepit, berbeban berat, tersinggung, atau berada pada sikon yang dilematis! Di masa kritis dan krisis, seaslian seseorang akan muncul ke permukaan.
Dalam keangkuhannya, Naaman, jendral besar itu marah-marah, karena ketika ia datang, Nabi Elisa tidak keluar dari pondoknya. Dalam kondisi emosional, ia membandingkan sungai Yordan yang airnya keruh itu dengan sungai Abana dan Parpar di negaranya, sungai yang airnya jernih. Namun, sekalipun ia jendral besar, ia masih mau mendengar dan menuruti pendapat / usul anak buahnya. Akhirnya, ia menerima muzizat. Terjadi kesembuhan Ilahi dalam dirinya (2 Raj. 5:10-14). Sementara Lot dan kedua anaknya lari terbirit-birit tinggalkan Sodom, istrinya menoleh ke belakang (Kej. 19:15,16,26). Ketika Daud sedang melarikan diri dari Absalom, Simei melempari dia dari jauh, dengan batu. Abisai, anak buah Daud minta izin untuk memenggal leher Simei. Tapi Daud mencegah, karena ia sadar, bahwa ia telah berbuat dosa (2 Sam. 16:5-12). Ia punya rasa takut yang besar kepada Allah. Semuanya, baik Naaman, Lot dan keluarganya, maupun Daud, keaslian mereka terlihat, di saat mereka dalam situasi yang “gawat darurat.”
Begitu pula dengan keaslian Anda dan saya. Seperti apa reaksi Anda, di saat situasi dan kondisi krisis atau kritis datang melanda … di saat itulah keaslian Anda akan muncul. Mau introspeksi diri? GS

KARAKTER ORANG YANG SEBENARNYA, AKAN TERLIHAT KETIKA KEADAAN YANG BURUK TERJADI

11 Agustus 2014 – Penolong Yang Ajaib

Baca: Yohanes 5:1-18
“Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi.” (Mazmur 94:17).

Seringkali kita mengharapkan pertolongan dengan tepat sesuai harapan kita, mungkin sudah terlalu lama kita menantikan pertolongan, namun pertolongan tidak kunjung tiba sehingga yang ada perasaan gelisah dan putus asa.
Dalam Injil Yohanes 5:1-18 ada seorang yang sudah 38 tahun menantikan uluran tangan orang lain tapi tidak kunjung datang. Disaat keputus-asaan yang mendalam, Yesus mengetahui dan datang menawarkan pertolongan namun dijawab dalam keputus-asaannya, tidak ada yang mau peduli terhadap penderitaannya (Yohanes 5:5-7). Dengan penuh kasih, Yesus berkata “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” seketika itu juga ia sembuh dan berjalan (Yohanes 5:8-9). Setelah beberapa saat berjumpa kembali dengan Yesus dan dipesankan supaya tidak berbuat dosa lagi, “Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14).
Mungkin saat ini kita sedang menghadapi badai kehidupan, dimana tidak ada orang lain yang mempedulikan kita, Yesus datang menawarkan pertolongan-Nya. Oleh karena itu terima tawaran-Nya dan menikmati pertolongan-Nya, jangan berdalil atau lari mencari pertolongan orang lain tetapi lari kepada Yesus yang mengetahui dengan tepat apa yang kita perlukan, melangkah dengan iman dan Ia memberikan apa yang kita perlukan, jangan kembali ke dalam kehidupan lama (tabiat lama) tetapi mau berubah menjadi saksi Kristus bagi kemuliaan nama-Nya. AK

MENDEKATLAH KEPADA ALLAH AGAR MENERIMA RAHMAT DAN KASIH KARUNIA KRISTUS (Ibrani 4:16)

15 Juli 2014 – Prosedur Standar

Baca: Matius 8:23-27
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,..” ( Yakobus 1:5a)

 “Bruaaaaakkk …”, demikian suara yang sangat keras terdengar ketika sebuah mobil menabrak bemper bagian belakang mobil saya. Saat itu saya sedang sendirian dalam perjalanan ke luar kota untuk suatu urusan. Suara dan hentakan yang ditimbulkan sangat keras sehingga boneka anak saya di atas dashboard terlempar serta uang receh di sebuah kotak berhamburan ke mana-mana. Saya pun segera menepi dan menghentikan mobil saya. Ini adalah sebuah contoh kecil dari banyak peristiwa-peristiwa lain yang tidak menyenangkan, yang kadang kita alami dan seringkali datangnya begitu cepat dan tidak terduga. Pertanyaannya adalah, dalam situasi yang seperti ini, apa yang harus  kita lakukan? Ini tidak mudah. Beberapa orang seringkali merespon dengan sangat emosional, marah-marah, dan bersikeras meminta ganti rugi. Apalagi kalau dia tahu bahwa dia ada di posisi yang benar.
Sebagai anak Tuhan, kita tentunya harus mempunyai respon yang tepat, yang tidak menyimpang dari kebenaran dan tidak lepas kendali. Murid-murid juga pernah mengalami situasi yang sama. “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut …” (24a). Dan untunglah murid-murid segera berseru kepada Yesus dan minta pertolongan, sehingga situasi dapat segera terkuasai. Rasul Yakobus mengatakan bahwa salah satu hal yang kita minta dalam situasi “kurang hikmat” itu adalah dengan meminta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5a) dan Tuhan akan berikan hikmat itu (5b).
Marilah kita menjadikan ini menjadi prosedur standar kita, ketika terjadi hal-hal yang tidak terduga, maka respon pertama adalah berseru kepada Tuhan minta hikmat. Anda pasti akan kagum dengan pimpinan-Nya. SW

PROSEDUR STANDAR SANGAT PERLU UNTUK MENUNTUN LANGKAH KITA SAAT TERASA GELAP

01 Mei 2014 – Menerima Undangan Juruselamat

Baca: Matius 11:25-30
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Kisah pedih seorang ibu bernama Fatima, yang harus kehilangan ke dua anaknya. Anak pertamanya, berusia 7 tahun harus meninggal terlindas kereta api dan anak keduanya berusia 5 tahun tidak di ketahui rimbanya. Setelah 25 tahun penantian wanita yang diliputi duka dan air mata ini, akhirnya anak keduanya kembali ke dalam pangkuannya. Raut wajahnya berubah bahagia. Kerasnya kehidupan kadang kala membuat seseorang di rundung kepedihan dan keputusasaan. Mereka berusaha mencari jalan keluar dan pertolongan tanpa tahu apa yang harus ia perbuat.
Yesus memberikan undangan kepada kita ketika beban berat dan kepenatan hidup membuat kita tertatih menapaki jalan-jalan buntu serta habis akal. Allah menawarkan diri-Nya untuk kita berbagi beban. Persoalannya apakah kita mau datang memenuhi undangan-Nya? Seringkali kita lebih mendengar suara keputusasaan dan kepedihan hati, dari pada merespons ajakan Juruselamat yang sanggup memberi kelegaan. Yesus menyadarkan kita bahwa Ia ingin kita mempercayakan segala beban, persoalan dan keputusasaan kepada-Nya. Ia pasti memberi jalan keluar dan kelegaan bagi jiwa kita.
Sekarang waktunya Anda merespons panggilan Yesus untuk datang kepada-Nya, dikala beban hidup Anda terasa berat. Bukan datang kepada orang pintar, atau pertolongan di gunung Kawi dan paranormal, tetapi kepada Yesus. Pilihan ada pada Anda menerima atau mengabaikannya. Anda mau datang kepada-Nya? YN

ORANG BIJAK MENERIMA UNDANGAN YESUS, SEBALIKNYA SIKAP BODOH BILA MENGABAIKAN-NYA