Tag Archives: respon

29 April 2014 – Pujian Dalam Penderitaan

Baca: II Korintus 1:3-11
“Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.” (II Korintus 1:5)

Ami Carmichael menderita sakit dan tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Ia adalah pendiri Dohnavur Fellowship yang penuh semangat dan berhati dinamis, ia menjadi alat untuk menyelamatkan ratusan anak lelaki dan perempuan dari kesengsaraan akibat perbudakan seks. Ami sedikit pun tidak mengeluh atas penderitaannya melainkan inspirasi bagi orang lain.
Mempercayai Allah ketika mengalami penderitaan atau kesenggaraan adalah sikap yang di kenan oleh Tuhan. Rasul Paulus memberikan teladan dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Paulus mengucap syukur kepada Allah yang memberikan penghiburan berlimpah-limpah. Ia mengemukakan tujuan pen deritaannya adalah keselamatan bagi mereka. Ketika kita melihat penderitaan, kita dapat memakainya sebagai kesempatan untuk mengucap syukur kepada Allah dengan mempercayai-Nya meski di tengah kesulitan menerpa. Tanpa di sadari kita sedang bertumbuh dalam iman kepada Allah.Mana kala diterpa masalah, biarlah reaksi kita yang pertama adalah memuji Allah atas kasih karunia-Nya dan penghiburan yang Ia berikan bukan menyalahkan Allah. Jadikan penderitaan Anda menjadi pujian bagi Allah bukan sebaliknya menggerutu atau berkeluh kesah bahkan menuduh Allah atas penderitaan yang Anda alami. Sebab Kristus terlebih dahulu mengalami penderitaan dan bila Anda mendapat bagian dalam kesengsaraan Kristus, maka sikap Anda adalah bersykur!
Pada saat Anda mengalami penderitaan, apa reaksi Anda? Pilihan ada pada Anda, menggerutu atau bersyukur. Bersandarlah kepada Tuhan, Dia akan menolong Anda dan merubah penderitaan menjadi pujian. YN

TANGGAPAN POSITIF ANDA TERHADAP PENDERITAAN DAPAT MENJADI PUJIAN BAGI ALLAH

24 April 2014 – Menyikapi Keterpurukan

Baca: Filipi 2:1-11
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5)

Alkitab mengatakan bahwa hidup orang percaya adalah refleksi Kristus. Ketika Anda merefleksikan Kristus maka karakter Kristus tercermin dalam kehidupan Anda. Ada filosfi: Attitude determines Altitude (Sikap menyatakan sikap) Dengan perkataan lain, “Sikap positif akan meningkatkan kehidupan Anda lebih tinggi, sebaliknya sikap negatip, egois akan menurunkan kehidupan Anda. Bagaimana Sikap Anda ketika menghadapi kesukaran, kesulitan, kemalangan? Sikap Anda itu menentukan ‘output’. Apakah Anda tetap akan memberlakukan seseorang dengan baik sekalipun sedang dalam kesulitan? Atau sebaliknya, Anda ‘uring-uringan’, menyalahkan sana-sini, Pendeta disalahkan, Gereja di-kambing hitamkan. Kemudian cari Gereja lain, apakah demikian?
Banyak orang komplein, marah ketika apa yang diharapkan tidak terjadi. Sikap kekanak-kanakan seperti itu malah menutup pintu-pintu berkat Allah, pintu-pintu mujizat Allah. Jikalau hari-hari ini Anda sedang melewati kesulitan, masalah, kemalangan, firman Tuhan menasehti Anda untuk tetap bersikap sebagai orang-beriman, tetap berharap kepada Nya, bersyukur kepada Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan mengijinkan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).
Ketika Anda tak tergoyahkan oleh kesulitan, masalah kemalangan maka Anda akan ‘naik lebih tinggi’, Anda menjadi lebih bijak, lebih tegar, Anda sedang menuju kepada hidup yang berkelimpahan yang Allah sediakan. TL

THOUGH TIMES NEVER LAST, BUT THOUGH PEOPLE DO

26 Januari 2014 – Rela Hati

Baca: Matius 11:25-30
“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:30)

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat petugas kebersihan di jalan-jalan raya? Tahukah Anda, jam 05.00 pagi mereka sudah mulai bekerja. Bahkan di siang hari yang panas, mereka pun masih terus membersihkan jalan. Anda kasihan melihatnya? Mungkin bagi mereka, hal itu menyenangkan. Dalam lingkungan kita bekerja maupun dalam pelayanan, seringkali kita juga melihat hal yang sama. Kita merasa kasihan melihat office boy, kita merasa iba melihat koster gereja. Belum tentu pekerjaan itu menjadi beban bagi mereka, justru dibanyak tempat saya melihat mereka dengan sukacita dan kadang dengan canda mengerjakan pekerjaan tersebut tanpa mengurangi hasil pekerjaan yang baik.
Yesus memberi perintah kepada para pengikut-Nya, yaitu untuk memikul salib. Padahal, Yesus mengundang mereka yang yang letih lesu dan berbeban berat. Bukankah seharusnya beban itu yang Tuhan angkat? Justru, sebaliknya yang Tuhan tawarkan, yaitu memikul kuk. Bukankah beban itu menjadi bertambah? Namun Tuhan menjelaskan bahwa kuk yang Yesus berikan itu enak. Apa yang membuat kuk itu enak? Karena kuk itu kita pikul bersama Tuhan Yesus.
Jika kita mengerjakan pekerjaan dengan rela hati, kita sedang melakukannya bukan dengan tekanan. Mungkin apa yang kita kerjakan orang lain melihat begitu berat dan tidak menyenangkan, tetapi bagi kita yang menjalaninya dengan rela hati itu menyenangkan. Jika hari-hari ini Anda merasa tertekan dengan pekerjaan Anda, periksa hati, jangan-jangan Anda tidak dengan rela hati mengerjakannya. Ingat, beban Anda ringan, karena Anda mengerjakannya bersama dengan Tuhan Yesus. SP

RESPONS HATI KITA MENENTUKAN APAKAH KITA ORANG YANG BEBAS ATAU TIDAK

27 Desember 2013 – Masalah, Tampilkan Keaslian

Baca: Mazmur 139:23-24
“Malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.” (I Samuel 13:7)

Orang Filistin telah mempersiapkan 3000 kereta, 6000 orang pasukan berkuda dan prajurit berjalan kaki yang tak terhitung, untuk maju berperang. Melihat hal itu, banyak rakyat Israel yang lari ketakutan dan bersembunyi di gua-gua, bahkan dalam sumur. Prajurit yang bersama Saul pun ikut gemetar ketakutan (I Samuel 13:5-7). Pada saat situasi seperti itu, nabi Samuel yang dinanti-nantikan selama 7 hari, tak kunjung muncul. Di tengah masalah besar seperti itu, Saul sangat tertekan. Dia melakukan sesuatu yang bukan wewenangnya, yaitu mempersembahkan korban bakaran (I Samuel 13:8,9). Justru karena hal inilah, Saul dipecat oleh Tuhan (I Samuel 13:10-13).
Mari kita renungkan kisah selanjutnya. Jika Tuhan sudah memecat dirinya (Saul) dan telah menunjuk orang lain untuk menggantikan, apa yang sebaiknya harus dilakukan? Jawabannya adalah: Saul harus taat! Tak lama sesudah firman Tuhan itu disampaikan (1 Samuel 13:4), Saul tahu, bahwa orang pilihan Allah yang akan menggantikan dirinya sebagai raja adalah Daud. Apa yang dilakukan Saul? Dia terus menerus mengejar Daud untuk dibunuh. Pertanyaan berikut: Hal itu berarti apa? Saul bukan hanya tidak taat, tapi menentang keputusan Allah dengan berusaha membunuh orang pilihan-Nya.
Keaslian Saul muncul, saat masalah menekan. Jadi, sebenarnya masalah yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, ada baiknya. Yaitu, kita tahu sifat asli diri sendiri dan orang lain. Masalah lain adalah, setelah muncul sifat yang jelek, apakah kita mau menyadarinya dan berubah dengan merespons yang baik? GS

BECIK KETITIK, ALA KETARA (BAIK ATAU BURUK, SUATU HARI PASTI AKAN TERSINGKAP JUGA)