Tag Archives: sukacita

02 Januari 2014 – Sukacita Melayani

Baca : Lukas 8:1-3
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)
 
           Tanggal 5 Oktober 2013, saya pergi ke desa Bonian, di kabupaten Dairi, Sumatra Utara, untuk membagikan firman Tuhan. Saya tidak tahu pasti tempat tujuan saya, karena memang saya belum pernah ke situ. Perjalanan yang cukup melelahkan saya tempuh hampir lima jam dari tempat tinggal saya. Saya sempat ragu, karena dalam pikiran saya, jalan yang akan saya tempuh bukanlah naik turun gunung karena menggunakan angkutan umum. Puji Tuhan. Akhirnya saya tiba di tempat sekitar jam delapan malam. Keesokan harinya, kami memulai pelayanan di pos PI yang mereka rintis. Dua orang jemaat dengan sukarela ikut bersama kami untuk melayani. Sebelum ibadah dimulai, gembala dan kedua orang tadi menjemput jemaat yang tinggal jauh dari pos tersebut. Kemudian, seorang dari mereka memimpin pujian dengan sukacita.
            Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan bagaimana Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Saya membayangkan waktu itu, Yesus mengelilingi kota dan desa dengan berjalan kaki. Mungkin jalan yang Dia tempuh adalah jalan berbatu, berlumpur dan pasti juga Dia naik dan menuruni gunung untuk dapat mencapai desa-desa yang dikunjungi. Namun saya sangat yakin bahwa Yesus melakukan pelayanan-Nya dengan sukacita.
            Dalam perjalanan misi itu, dicatat bahwa Yesus tidak sendirian. Tetapi kedua belas murid-Nya, bahkan ada perempuan-perempuan yang ikut dalam rombongan itu, yang juga melayani kebutuhan logistik tim mereka dengan kekayaan dan harta benda yang mereka miliki. Pasti, para pengikutnya juga melayani dengan sukacita. Sudahkah Anda melayani dengan sukacita? EJG

LAYANILAH TUHAN DENGAN SUKACITA KARENA DIA TIDAK PERNAH BERHUTANG KEPADA ANDA

14 Desember 2013 – Ungkapan Kemenangan

Baca: 2 Korintus 2:12-17
“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.” (2 Korintus 2:14)

Ketika Anda berpikir tentang masa lalu Anda, peristiwa apa yang selalu teringat? Kenangan indah apa yang ingin Anda ulangi kembali? Dalam Perjanjian Lama, mereka diajar Allah untuk membuat ‘Batu Peringatan’ sebagai tanda kemenangan mereka. Batu peringatan ini berfungsi untuk mengingatkan dan mengatakan kepada siapa saja yang melihat, akan perbuatan baik Allah atas kehidupan mereka.
Mari kita berfokus kepada kemenangan kita bersama Tuhan dari pada kegagalan, kekalahan dan kemunduran. Sebab yang terakhir ini akan menguras energi Anda, mencuri rasa percaya diri dan sukacita Anda. Sebaliknya, ketika Anda berfokus kepada kemenangan, Anda akan membangun kekuatan dan kepercayaan diri. Mendorong Anda untuk bersyukur kepada Tuhan. Ketika Anda memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas kemenangan dalam hidup Anda, Tuhan akan mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada Anda. Dia akan membuka pintu berkat bagi Anda untuk terus bergerak maju memenuhi impian dan keinginan-Nya. Ironisnya anak-anak Tuhan, lupa anugerah Tuhan. Saat masalah datang, kita bersungut-sungut dan melawan Tuhan. Syukur, Tuhan tetap mengasihi dan setia kepada kita.
Marilah, kita belajar untuk terus menerus mengucap syukur. Dengan jalan itu, kita menyebarkan keharuman kemana pun kita pergi, Bahkan jika tak seorang pun mengakui usaha kita, Allah melihat dan mengetahui. Jadi jangan berkecil hati. Jangan pula menyerah. Apa yang Anda lakukan selalu memiliki arti yang kekal di mata Allah. TL

TAK ADA TEMPAT BAGI ANDA UNTUK TIDAK MENYEBARKAN KEHARUMAN ALLAH

13 Desember 2013 – Damai Sejahtera Sejati

Baca: Roma 5:1-11
“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” (Roma 5:1)

Seringkali kita kesal dan marah, ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Jika perasaan itu seringkali muncul dalam hidup kita, maka suasana hati kita ditentukan apa yang ada di luar hati kita. Contoh, dalam pengalaman saya membeli buku, tidak semua pelayan toko ramah. Kadang ada yang menjengkelkan yang membuat perasaan saya tersingung. Menurut saya, seharusnya adanya pembeli membuat penjual tersebut senang. Tapi yang terjadi tidaklah demikian. Dia melayani dengan buruk, tidak sopan, dan dengan muka cemberut. Untuk menunjukkan rasa kesal, kadang saya pun tergoda bersikap tidak ramah juga. Tetapi itu adalah pilihan sikap yang sangat buruk. Saya tersadar ketika timbul perkataan dalam hati, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?” “Mengapa aku harus mengizinkan dia merebut damai sejahteraku?”
Firman Tuhan hari ini begitu jelas mengatakan bahwa kita sebagai orang benar mempunyai damai sejahtera oleh karena Yesus Kristus. Bahkan dalam ayat-ayat selanjutnya dikatakan dalam kesengsaraan pun seharusnya kita tetap bermegah di dalam Tuhan (Roma 5:3). Kepada orang percaya di Roma, Paulus sedang menasihati bahwa keselamatan dari Yesus itu lebih dari cukup untuk alasan mengalamai damai sejahtera. Bahkan dalam situasi yang tidak baik pun, selama Yesus yang menjadi sumber pengharapan, maka damai sejahtera itu tidak pernah hilang dalam hidup orang percaya yang sudah dibenarkan oleh kematian Kristus.
Hari-hari ini Anda sedang kehilangan damai sejahtera? Ingatlah, bahwa Tuhan Yesus harus menjadi dasar sukacita Anda. Jangan biarkan persoalan hidup mencuri damai sejahtera Anda. SP

MILIKILAH IMAN KEPADA TUHAN YESUS, MAKA ANDA AKAN MENGALAMI DAMAI SEJAHTERA

22 Maret 2013 – Sukacita Sejati

Baca: I Tesalonika 1:2-10
“Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” (I Tesalonika 1:6)

John Gibson Paton, anak dari James dan Janet Paton yang lahir pada tanggal 24 Mei 1824, di Skotlandia. Meskipun ia putus sekolah sejak usia 12 tahun, namun semangat belajarnya luar biasa. Kerinduannya untuk melayani Tuhan telah mendorongnya masuk sekolah teologi. Singkat cerita, setelah lulus ia pun melayani di sebuah gereja dan segala keperluannya tercukupi. Hingga suatu kali ia pun harus diperhadapkan dengan dua pilihan yang tidak gampang untuk diputuskan. Yaitu, menjadi seorang misionaris atau tetap melayani di gerejanya. Pada waktu itu, semua majelis gereja berusaha mempertahankan Paton untuk tidak keluar, namun di sisi lain hatinya didorong untuk menjadi misionaris untuk satu suku yang dikenal kanibal pada waktu itu. Dengan pergumulan yang berat, ia pun memutuskan untuk menjadi misionaris. Bagi Paton sukacita adalah melakukan kehendak Tuhan. “Tidak ada hal lain yang begitu menyenangkan dibandingkan dengan keputusan untuk maju melakukan apa yang Anda tahu sebagai kehendak Tuhan.”

Paulus begitu besukacita ketika ia mendengar jemaat di Tesalonika bersukacita menerima Injil, sekalipun banyak penderitaan yang sedang dialami. Firman Tuhan menjadi sebuah kesukaan yang besar. Inilah yang seharusnya menjadi kebanggaan pengikut-pengikut Kristus, bahwa sukacita mereka adalah menemukan kehendak Tuhan dalam hidup mereka.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang membuat hidup Anda menyenangkan? Kekayaan? Kekuasaan? Kesuksesan? Apa gunanya semuanya itu, jika kita melakukannya tanpa Tuhan? Biarlah renungan ini mengingatkan kita untuk mencintai kehendak Tuhan melalui firman-Nya. SP

KESUKAANKU IALAH MERENUNGKAN TAURAT ITU SIANG DAN MALAM

26 Februari 2013 – Status Yang Mulia

Baca: Mazmur 16:1-11
“Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” (Mazmur 16:9)

Perasaan minder dan rendah diri merupakan persoalan yang seringkali membuat hidup kita merasa lebih rendah dari orang lain, sehingga kebahagiaan itu tidak pernah kita rasakan. Ketika apa yang kita miliki tidak lebih baik dari milik orang lain, kadang kita pun merasa kurang berharga. Tahukah Anda, bahwa hasil penelitian dari University of Warwick dan Cardiff University, Inggris Raya menemukan bahwa kebahagiaan seseorang ternyata tergantung pada tingkat sosialnya. Hasil penelitian itu menunjukkan, jika seseorang pendapatannya meningkat, belum tentu membuatnya bahagia jika tak mengubah posisi sosialnya. Orang miskin yang merasa “lebih beruntung” bisa merasa berharga jika melihat nasibnya lebih baik dibanding orang lain yang lebih kaya. Sebaliknya, orang kaya yang hidup di kompleks perumahan yang semua penghuninya orang-orang kaya, merasa tertekan karena ia jadi “orang miskin” di antara orang-orang kaya.

Firman Tuhan hari ini memberikan kunci tentang sebuah hidup yang berarti. Daud berkata bahwa Tuhanlah yang menjadi bagiannya (ayat 5). Hal ini menunjukkan bahwa Daud begitu bangga dengan apa yang ia miliki. Tuhanlah yang menjadi milik Daud saat itu. Bahkan ia berani membandingkan diri dengan orang yang tidak mengenal Allah, bahwa mereka akan bertambah kesedihannya (ayat 3). Sebaliknya, Tuhan Allah yang akan memberikan sukacita.

Jika harga diri dan kebahagiaan Anda tergantung dengan barang yang Anda miliki, bergantung dengan apa yang orang lain miliki, maka Anda tidak akan pernah merasa berharga. Status Anda sebagai orang percaya seharus membuat Anda bangga, karena Pencipta alam semesta inilah yang menyertai hidup Anda. Apakah Anda bangga memiliki Yesus? SP

STATUS KITA DI HADAPAN TUHAN MULIA. MAZMUR 16:3

8 Januari 2013 – Pengharapan Yang Benar

Baca: Amsal 10:1-32
“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” (Amsal 10:28)

Saya punya seorang teman yang berprofesi sebagai petani. Dia adalah seorang sarjana dari perguruan tinggi ternama. Sawahnya luas berhektar-hektar di daerah Klaten. Yang menarik adalah dia sendiri tidak sungkan-sungkan turun ke sawah untuk mengolah tanah, menyemai benih padinya, mengairi dan memupuk, serta membasmi hama padinya itu. Ia mau melakukan semuanya itu karena adanya sebuah pengharapan, yaitu menuai hasil panen yang melimpah dari tanahnya.

Dalam hidup ini, kitapun harus memiliki pengharapan. Seperti apakah pengharapan yang benar, pengharapan yang akan membuahkan sukacita dalam hidup kita? Pertama, pengharapan kita itu harus ada dasarnya. Teman saya pantas untuk mengharapkan panen. Karena ia telah menanam benih dan percaya bahwa benih itu akan menghasilkan panen yang baik. Demikian juga kita, pengharapan kita harus berdasar dan bukan spekulasi. Kedua, harus ada tindakan nyata dari kita. Teman saya mengharapkan panen, karena itu ia mengolah dan menggemburkan sawahnya, mengairinya, memberi pupuk, menjaganya dari hama, dst. Ia harus bekerja keras sebelum panenannya menjadi kenyataan.

Sama halnya dengan kita, kalau tidak mau melangkah dengan iman, maka semua pengharapan kita itu hanya akan berakhir menjadi sebuah impian. Terakhir, harus realistis. Memang Tuhan bisa melakukan mujizat, namun itu bersifat insidentil. Benih padi yang baru ditabur hari ini, tidak mungkin bisa dipanen minggu depan. Hanya menanam sedikit benih, tidak mungkin bisa menuai hasil yang banyak. Pengharapan yang tidak wajar hanya akan menghasilkan kekecewaan. Mari kita memiliki pengharapan yang benar dan menjalaninya dengan kesabaran dan ketekunan. Lihatlah mujizat pasti terjadi. YR
PENGHARAPAN AKAN BERBUAH SUKACITA