Tag Archives: tanggung jawab

25 November 2014 – Penjaga Adikku?

Baca: Roma 14:1-12
“Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.” (Roma 14:7)

Apakah terlintas dalam pikiran Anda bahwa Anda bertanggung-jawab secara rohani kepada Allah untuk orang lain? Contohnya, jika saya berpaling untuk menjauhi Allah dalam kehidupan pribadi saya, semua orang disekitar saya akan menderita. Kita duduk “bersama-sama dengan Dia disurga…” (Efesus 2:6). “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.” (1 Korintus 12:26). Jika Anda membiarkan adanya keegoisan jasmani, ketidakpekaan moral atau kelemahan rohani, semua orang yang berhubungan dengan Anda akan menderita. Namun Anda bertanya, “Siapa yang sanggup hidup menurut standar yang begitu tinggi?” “Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” dan hanya Allah semata (2 Korintus 3:5).
“Kamu akan menjadi saksiKu..” (Kisah Para Rasul 1:8). Berapa dari kita yang rela menghabiskan setiap titik tenaga syaraf, mental, moral dan rohani kita untuk Yesus Kristus? Itulah yang dimaksudkan Allah ketika Dia memakai kata ’Saksi’. Namun hal itu membutuhkan waktu, karena itu bersabarlah terhadap diri Anda sendiri. Mengapa Allah meninggalkan kita dibumi? Apakah tujuannya hanya untuk diselamatkan dan dikuduskan? Bukan, melainkan untuk bekerja melayani-Nya. Apakah Anda bersedia menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dicurahkan untuk-Nya?
Hidup pelayanan Anda kepada Allah adalah cara Anda mengucapkan ‘terima kasih’ kepada-Nya untuk keselamatan-Nya yang tak terlukiskan indahnya. Ingatlah, mungkin saja bagi Allah menyingkirkan kita jika menolak melayaniNya. TL

SETIAP ORANG INGIN MERUBAH DUNIA, SEDIKIT YANG INGIN MERUBAH DIRINYA SENDIRI

17 September 2014 – Menyalahkan Orang Lain

Baca: Kejadian 3:1-24
“Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Ka utempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12)

Kebiasaan merupakan salah satu sifat yang menjadi bagian kepribadian seseorang. Tentu setiap kita juga mempunya kebiasaan-kebiasaan yang tanpa kita sadari hal itu telah menemani hari-hari yang kita jalani. Namun ada kebiasaan yang ternyata dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, yaitu kebiasaan menyalahkan orang lain. Ketika melakukan kesalahan, kegagalan dan hal-hal yang buruk, maka orang tersebut akan mencari alasan-alasan untuk menyalahkan orang-orang disekitar mereka. Seseorang berkata, Jika Anda menyalahkan orang lain atas apa yang Anda rasakan, Anda justru memberi kekuatan pada mereka bahwa Anda sebenarnya tergantung pada mereka.

Ketika Adan dan Hawa jatuh kedalam dosa, mereka cenderung menyalahkan orang lain. Adam menyalahkan Hawa dan bahkan secara tidak langsung juga menyalahkan Tuhan, karena menempatkan Hawa disisi Adam (Kejadian 3:12). Begitu juga Hawa, ia menyalahkan ular yang telah mengelabuhinya untuk makan buah terlarang (Kejadian 3:13). Seharusnya respon Adam dan Hawa adalah mereka menyadari akan kesalah dan kemudian bertobat minta ampun kepada Tuhan. tentu hal yang demikian akan lebih bijak.

Sebagai anak Tuhan, seringkali kita pun tidak lepas dari kegagalan dan jatuh bangun dalam dosa. Dalam keterpurukan tersebut, seringkali kita tergoda untuk menyalahkan orang lain. Mari kita belajar bertanggung jawab dan tidak mudah menyalahkan keadaan maupun orang lain. Melihat kekurangan dan mencoba memperbaiki diri adalah cara untuk bangkit dari segala kegagalan. Intropeksi dirilah dalam segala keadaan. SP

SUKA MENYALAHKAN ORANG LAIN MERUPAKAN SIKAP YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB

03 September 2014 – Kebebasan Yang Benar

Baca: Galatia 5:1-15
“ Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13)

Setiap orang ingin menikmati kebebasan atau kemerdekaan sehingga dapat dengan leluasa melakukan apapun juga sesuai keinginan hati dan pikiran, sebagai orang kristen pun juga ingin menikmati hal yang sama karena meyakini sudah terbebaskan dari segala tuntutan-tuntutan hukum taurat.
Kita sebagai orang kristen perlu memahami dengan benar, bahwa kebebasan atau kemerdekaan yang Allah karuniakan itu bukan semata-mata secara lahiriah tetapi secara rohaniah, sehingga pada saat kita mengisi arti kebebasan dalam hidup ini akan menghasilkan “damai sejahtera” dalam hati dan pikiran yang memberi dampak positip kepada kita dan kepada lain orang, bdgk I Kor.8:1-13. Oleh karena itu, marilah kita sebagai orang kristen yang dengan sungguh hati percaya dan menghormati kasih karunia Allah dan yang telah menikmati kebebasan secara rohani, mengisi hari-hari yang kita lalui untuk dapat menyenangkan hati Allah, jangan mudah terprovokasi oleh segala tawaran-tawaran dunia yang “seolah-olah” enak untuk dinikmati tapi pada akhirnya membuahkan sengsara, dan hal ini pasti tidak diinginkan Allah untuk dinikmati dalam kehidupan anak-anak Nya(Kejadian.2:16-17, Mazmur.147:11).
Kebebasan yang Allah karuniakan sepatutnya dapat menyenangkan hati Allah bukan sebaliknya kita menggunakan kemerdekaan kita untuk melakukan hal yang tidak berkenan di mata Tuhan. Sudahkah Anda menggunakan kemerdekaan Anda dengan benar? Pilihan ada pada Anda! AK

ALLAH MEMBERIKAN KEBEBASAN, TUGAS ANDA IALAH BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEBEBASAN ITU

26 Agustus 2014 – Menyalahkan Orang Lain

Baca: Roma 2:1-16
“Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.” (Roma 2:2)

Seni menyalahkan orang lain, merupakan sebuah kebiasaan yang biasa kita lakukan. Ketika terjadi masalah, maka respons pertama yang seringkali muncul adalah menyalahkan orang lain. Ketika seseorang yang jatuh ke dalam narkoba, kecenderungan orang akan menyalahkan lingkungan dan bahkan perlakuan orang tua yang tidak baik. Padahal, tidak semuanya anak seperti itu. Jika kita tahu, ada orang-orang yang tinggal dalam lingkungan yang tidak baik, bahkan berkumpul dalam keluarga yang tidak harmonis, namun masih dapat mempertahankan karakter yang baik.
Ketika nilai sekolah jelek, kita menyalahkan guru yang galak, padahal kita kurang belajar dengan tekun. Ketika gaji kita tidak cukup, kita menyalahkan atasan yang kurang memberi banyak. Mungkin saja bukan karena gaji yang kita terima kurang, jangan-jangan kita tidak dapat mengelola keuangan dengan baik. Memang paling mudah menyalahkan orang lain atau situasi jika terjadi sesuatu masalah. Padahal menurut penelitian yang dimuat di Harvard Business Review, bermain dalam permainan menyalahkan tidak akan pernah berhasil. Dalam penelitian itu, mereka yang menyalahkan orang lain atas kesalahannya dapat kehilangan status, kurang mendapat pelajaran, dan berperforma buruk dibandingkan orang-orang yang mengakui kesalahan mereka.
Pesan firman Tuhan hari ini, memperingatkan kita bahwa hukuman Allah itu berlaku jujur. Ia tahu mana yang sepatutnya di hukum (Roma 2:2). Oleh sebab itu, mari menjadi orang yang jujur dan berani bertanggung jawab. Tinggalkan kebiasaan yang suka menyalahkan orang lain. Seseorang menulis, jika kita suka menyalahkan orang lain, berarti kita bukan orang yang mengendalikan diri kita sendiri. SP

MENYALAHKAN ORANG LAIN, MERUPAKAN BUKTI ORANG YANG TIDAK MAMPU MEMIMPIN DIRI SENDIRI

24 Agustus 2014 – Menyangkal Diri

Baca: Matius 16:21-28
“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).

Ada Sekolah Menengah Pertama (SMP) di suatu kota, yang mengharuskan murid-murid untuk membeli kaos kaki di sekolah. Dengan tujuan supaya semua murid memakai kaos kaki yang berwarna putih dan panjang, sehingga terlihat baik dan rapi. Memang semua murid membeli kaos kaki di sekolah, tetapi masih banyak murid yang memakai kaos kaki tidak sesuai dengan harapan sekolah. Sebab mereka dalam memakai kaos kaki warna putih dan panjang itu dengan cara dilipat dan bahkan ada yang dilipat sampai masuk ke dalam sepatu. Tidak dipakai sesuai aturan sekolah yang berlaku. Mengapa kaos kaki mereka dilipat? Sebab mereka masih mengikuti kesenangan sendiri dan belum menyangkal diri. Apa artinya menyangkal diri?
Menyangkal diri adalah suatu usaha untuk mengesampingkan diri, menjauhkan diri, meninggalkan kepentingan dan kesenangan sendiri, lalu menaruh, menyimpan dan melakukan kehendak Allah. Yesus Kristus lahir di kandang yang hina dan mati di kayu salib dengan hina adalah teladan yang sempurna mengenai menyangkal diri. Seperti halnya nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang teladan Yesus perihal menyangkal diri (Filipi 2:5-8). Menyangkal diri adalah suatu usaha dan tanggung jawab kita. Pada waktu kita membaca dan mendengar firman Allah, Roh Allah memberi pencerahan. Setelah kita mengerti, kita bertanggung jawab untuk menyimpan firman Allah dalam hati dan melakukannya dalam hidup sehari-hari.
Apakah Anda siap menyangkal diri? Apakah Anda mau menyimpan firman Allah dalam hati dan melakukan firman Allah dalam hidup ini? DS

MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU DAN MENYANGKAL DIRI TANGGUNG JAWABKU

16 Maret 2014 – Potensi Yang Tersembunyi

Baca: Matius 25:14-30
“Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. “(Matius 25:15)

Seorang pria bernama Alexander di Rusia yang bekerja sebagai pramusaji restoran. Sekilas, tidak ada yang aneh pada Alexander, dia tampak seperti pria muda pada umumnya. Namun jika dia sudah beraksi dengan memutar kepalanya ke arah belakang, banyak orang yang akan ngeri dan menjerit ketakutan. Itulah kemampuan khusus yang dimiliki Alexander, memutar kepalanya hingga 180 derajat, kemampuan yang mustahil dimiliki manusia pada umumnya. Dia mengatakan bahwa dia mengetahui keanehan pada tulang lehernya saat senam. Ia mengetahui bahwa tulang lehernya sangat fleksibel, bahkan terlalu fleksibel sehingga bisa memutar balik kepalanya. Pria ini harus konsentrasi 100 persen ketika memutar kepalanya ke arah belakang. “Saat kepala saya berputar ke belakang, saya tidak seperti diri saya sendiri, seolah-olah saya adalah orang lain yang tubuhnya dipenuhi beberapa jenis energi,” ujar Alexander. Fenomena aneh ini cukup memusingkan ahli kesehatan tulang. Seorang ahli kesehatan di dalam video mengatakan, “Saya berada dalam dunia radiologi selama 30 tahun, namun belum pernah melihat kasus seperti Alexander yang sangat fleksibel,” ujarnya. 
Seperti hal dengan setiap orang diberikan talenta atau kemampuan untuk melakukan tugas Allah di dunia ini. Dan setiap orang mendapat satu talenta untuk dikembangkan. Tuhan tidak melihat banyak atau sedikitnya kamampuan Anda, tapi Anda dituntut untuk menghasilkan. Di gereja kadang ada orang punya banyak potensi tapi diajak pelayanan tidak mau, dengan berbagai alasan.
Ingat Tuhan akan meminta pertanggungjawaban semua potensi yang Tuhan sudah berikan. HR

MULIAKANLAH TUHAN DENGAN TALENTA ANDA

22 November 2013 – Bekerjalah Keras

Baca: Pengkhotbah 11:1-8
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6)

Hidup dapat diibaratkan sebagai kapal: Anda harus mulai berlayar keluar dengan iman jika Anda berharap pergi ke suatu tempat. Membatasi diri Anda pada satu kapal dapat membawa bencana, jadi percayalah kepada Tuhan ketika Dia memimpin Anda di dalam beberapa upaya. Salah satu kriteria kerja keras, adalah: tidak memperhatikan situasi dan kondisi. Salah satu kebiasaan manusia yang paling efektif, adalah proaktif. Kata proaktif lebih dari hanya sekedar mengambil inisiatif. Kata ini berarti bahwa sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita dapat menomor dua kan perasaan sesudah nilai. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatu terjadi. Orang yang sangat proaktif mengenali tanggung jawab itu. Mereka tidak pernah menyalahkan keadaan, kondisi, atau pengkondisian untuk perilaku mereka. Perilaku mereka adalah produk dari pilihan sadar mereka, berdasarkan nilai dan bukan produk dari kondisi mereka berdasarkan perasaan.
Mulailah pagi-pagi benar, dengan mengingat bahwa malam akan datang ketika tak seorangpun dapat bekerja. (Yohanes 9:4). Anda akan bertambah tua dan suatu hari tidak mampu bekerja sebanyak dulu, jadi pakailah kesempatan-kesempatan Anda selagi Anda bisa. Jika pagi hari menyenangkan bagi Anda, tidur Anda pada malam hari juga akan menyenangkan. TL

ORANG HARUS MENUNGGU MALAM TIBA UNTUK MENYADARI BETAPA INDAHNYA HARI ITU. Sophocles