Tag Archives: teladan

12 Oktober 2014 – Ayah Sejati

Baca: Kejadian 7:1-24
“Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu”. (Kejadian 7:13)

Paus Yohanes XXIII pernah berkata, “Seorang ayah bisa dengan mudah memiliki anak, jauh lebih sulit bagi seorang anak untuk bisa memiliki ayah yang sejati.” Sebuah pernyataan yang menggelitik, tetapi diam-diam kita membenarkan. Memang, sekadar menjadi ayah sangat berbeda dengan menjadi ayah sejati. Ayah sejati mengesampingkan kepentingan dirinya sendiri sejak ia memiliki anak. Ayah sejati mendampingi dengan kasih saat sang anak tertatih belajar menjalani hidup. Ayah sejati tak hanya mempersiapkan warisan duniawi, tetapi menurunkan iman yang membawa pada hidup kekal.
Sebagai ayah, Nuh menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mengarahkan hidup seluruh keluarganya. Walau dunia tempat tinggal mereka sudah begitu kacau karena kejahatan dan ketidaktaatan, Nuh tetap bertahan hidup benar dan tidak bercela (Kejadian. 6:9). Tentu itu bukan hal mudah baginya. Namun ia sanggup melakukannya, karena ia bergaul karib dengan Tuhan. Tak heran ia mendapat kasih karunia istimewa dari Tuhan. Dan, tak berhenti di situ saja. Ia menurunkan kepercayaannya itu kepada seluruh keluarganya. Buktinya, di tengah masyarakat yang bersikeras tak mau mendengar peringatan Nuh, istri, anak, dan menantunya masih mau percaya dan mengikutinya. Dan, ketika mereka mengikuti pimpinan Nuh, mereka pun selamat dari kebinasaan (Kejadian. 7:23).
Para ayah, di tangan Anda ada mandat Tuhan untuk memimpin keluarga Anda pada kehidupan sejati dalam Kristus. Hiduplah karib dengan Tuhan, maka seluruh keluarga Anda akan mengikuti dengan rela, percaya, dan sukacita. TL

KETIKA AYAH MENELADANKAN KETAATAN, MAKA KELUARGA AKAN MERESPONS YANG SEPADAN

16 Juli 2014 – Keturunan Anak Tuhan

Baca: Mazmur 37:27-40
“Sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.” (Mazmur 37:28)

Saya pernah mendapat kiriman artikel dari dosen saya. Artikel ini sungguh menarik. Demikian isi artikel tersebut. “Ateis Vs Kristen.” Pada abad ke-19 ada dua orang Amerika yg memiliki kisah hidup yang bertolak belakang sekalipun keduanya hidup pada tahun yang sama. Max Jukes memilih hidup menjadi seorang ateis dan menentang Tuhan. Dari 560 keturunannya; 300 orang mati sebagai pengemis, 150 orang menjadi penjahat, tujuh orang pembunuh, 100 orang pemabuk dan lebih dari setengah keturunannya yang perempuan menjadi pelacur.
Sedangkan Jonathan Edwards, seorang Kristen yang mengasihi Tuhan. Hidup pada tahun yang sama dengan Max Jukes. Selain menguasai banyak bahasa, ia juga gigih memberitakan Injil. Jonathan Edwards menikah dengan wanita muda yang takut Tuhan. Dari 1.394 keturunannya ditelusuri: 295 orang lulus kuliah, 13 orang menjadi rektor, tiga orang dipilih sebagai senator Amerika, tiga orang gubernur Negara bagian, 30 orang menjadi hakim, 100 orang menjadi pengacara, 100 orang menjadi misionaris, pengkhotbah dan penulis terkenal, 80 orang bekerja di kantor pemerintahan, 75 orang menjadi perwira angkatan bersenjata, 65 orang menjadi professor, tiga orang menjadi walikota dan satu orang menjadi wakil presiden.
Dari artikel tersebut, saya menyimpulkan bahwa betapa pentingnya orang tua memberi teladan dan ajaran dalam pengenalan akan Tuhan. Hidup takut akan Tuhan, membuat hidup kita diberkati Tuhan hingga keturunan-keturunan kita. Mari ciptakan generasi-generasi yang takut akan Tuhan. SP

ANAK CUCU ORANG BENAR, TIDAK AKAN PERNAH MEMINTA-MINTA, KARENA TUHAN YANG MEMELIHARA

21 Mei 2014 – Didikan Orang Tua

Baca: II Timotius 1:1-5
“Kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.” (Matius 20:2)

Istilah yang umum kita ketahui menggambarkan ayah dan aanaak yakni, “Like father like son” secara harfiah istilah ini berarti, Seperti ayah demikianlah anak, namun secara umum istilah ini dipakai untuk menunjukkan sebuah persamaan sifat, kebiasaan, hobi, talenta, antara generasi sebelumnya dengan generasi berikutnya dalam suatu keluarga.
Alkitab menjelaskan Timotius lahir dari seorang wanita Yahudi bernama Eunike, dan ayahnya berkebangsaan Yunani(Kisah Para Rasul 16:1), Mereka tinggal di sebuah kota bernama Listra. Arti nama Timotius sendiri dalam bahasa Yunani berarti “Kehormatan bagi Tuhan”. Neneknya Lois dan ibunya, Eunike mendidik Timotius sejak kecil dengan setia mengenai firman Tuhan sehingga ia bertumbuh menjadi anak yang juga beriman kepada Tuhan. Setelah beranjak dewasa, Timotius menjadi anak didik dari Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menyebutnya dengan anakku yang kekasih dan ia senantiasa mendidik Timotius dalam kebenaran, Ia setia memberikan nasehat supaya bertekun dan mengobarkan karunia Allah yang ada padanya. Betapa Paulus mengasihi Timotius sebagai anak rohaninya. Dan Timotius juga telah membuktikan bahwa ia seorang anak rohani yang baik yang telah mengikuti bapak rohaninya dalam hal ajarannya, kemudian mengajarkan kepada jemaat. Cara hidup dan pendiriannya yang teguh sekalipun harus menderita. Bahkan dalam iman dan kasihnya. Dengan demikian teladan didikan yang baik telah berhasil di berikan Paulus kepada Timotius anaknya.
Penting sekali sebagai orang tua memberikan teladan rohani. Sudahkah Anda memberikan teladan iman bagi anak? YN

ORANG TUA YANG BERHASIL IALAH MEREKA YANG MEMBERIKAN TELADAN IMAN BAGI ANAK-ANAKNYA

21 Februari 2014 – Jadilah Teladan

Baca: 1 Timotius 4:8-16
“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)
 
            Seorang sepupu saya mengatakan bahwa dia sedikit malas menghadiri acara-acara dalam keluarga besar kami. Ada beberapa alasan yang dia berikan kepada saya. Memang dia pernah tinggal dan bekerja di beberapa Negara. “Situasi dan kondisi negara yang pernah saya tinggal, sedikit tidaknya turut mempengaruhi kepribadian saya. Misalnya, saat berada di Kongo yang sedang dilanda perang. Situasi itu memberikan dampak kehidupan yang keras bagi saya. Namun, pengalaman dari bekerja di luar itu juga telah membuka wawasan saya, bagaimana harusnya saya hidup, bergaul dan menjadi pelaku firman Tuhan. Karena panduan kita adalah firman Tuhan,” katanya. Tetapi ada satu alasan yang sangat mengusik hati saya, yang menghalanginya untuk mau berkumpul dengan keluarga besar. Yaitu, soal teladan hidup, terlebih soal perkataan. Maka saya sebagai hamba Tuhan cukup kaget. Tetapi itulah kenyataan hidup yang dia alami dari keluarga yang seharusnya menjadi teladan bagi kami yang lebih muda.
            Dalam renungan hari ini, Paulus mengingatkan Timotius, anak rohaninya supaya tidak seorangpun yang menganggapnya rendah karena ia masih muda, tetapi bagaimana dia dapat menjadi teladan dalam perkataan dan tingkah lakunya. Pesan yang sama juga diberikan kepada kita sebagai orang percaya. Saya yakin kita sudah tahu banyak akan firman Tuhan. Pertanyaannya, “Sudahkah kita melakukannya dalam hidup kita?” Setiap orang tua pasti mengajarkan hal yang baik kepada anak-anaknya. Tetapi, sudahkah perilakunya menjadi teladan hidup bagi anaknya tersebut? Bagaimana dengan teladan hidup Anda? Renungkanlah! EJG

SUDAH SESUAIKAH PERKATAAN DAN PERBUATAN ANDA?

08 Desember 2013 – Teladan Maria Magdalena

Baca: Lukas 8:1-3
“Dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat.” (Lukas 8:2)

Maria dari Magdala mengalami perjumpaan dengan Yesus ketika kerasukan, dan seketika itu ia dilepaskan dari tujuh roh jahat yang menekan jiwanya. Sejak hari itu, Maria memutuskan untuk melayani Tuhan Yesus dengan setia. Injil Lukas mencatat bahwa Maria Magdalena dikategorikan sebagai wanita yang melayani Yesus. Ia memberikan seluruh hidupnya untuk mendukung pelayanan Tuhan Yesus. Ia melayani dengan segenap hati, kekuatan dan kekayaannya. Di samping itu Maria Magdalena bersama Yohana istri Khuza, Susana dan perempuan lainnya turut serta melayani Yesus saat itu.
Maria Magdalena menerima pertolongan yang luar biasa atas hidupnya ketika ia disembuhkan dari roh-roh jahat. Karenanya ia menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Tuhan dengan ia bersedia melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tidak cukup itu saja, Maria Magdalena membuktikan kesetiaannya atas imannya, pada saat Yesus disalibkan (Matius 27:56). Kemudian ia setia datang kekubur Yesus (Matius 28:1) dan Ia berjumpa kembali dengan Tuhan Yesus manakala Ia sudah bangkit (Matius 28:9-10). Pembuktian kasih yang patut kita teladani dari Maria Magdalena setelah ia mengalami perjumpaan dengan kuasa kasih Yesus. Ia tidak melupakan pertolongan yang sudah ia terima secara cuma-cuma.
Kehadiran Maria Magdalena dalam berbagai peristiwa penting Tuhan Yesus, menunjukkan bahwa ia pribadi yang patut di teladani yakni melayani dengan segenap hati dan memiliki kesetiaan sampai akhir. Bagaimana dengan Anda? YN

KESETIAAN DAN RELA BERKORBAN ADALAH TELADAN HIDUP YANG BISA DITULARKAN SEPANJANG MASA

02 Maret 2013 – Kekristenan itu Berbuat

Baca: Lukas 10:25-37
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka …” (Matius 7:12)

Seorang ibu yang miskin, tiga hari berturut-turut datang ke posko saweran untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia berkata bahwa masih banyak mereka yang lebih miskin dari dia ingin menyumbang pembangunan gedung KPK karena mereka percaya, “korupsilah yang memiskinkan negeri ini” (Kompas, 17 Oktober 2012).

Dalam kekristenan, Tuhan Yesus tidak memerintah dari sorga, melainkan Dia turun ke dunia, ke jalan dan ke lorong, menyapa dan melakukan tindakan nyata untuk menolong semua orang yang membutuhkan. Kekristenan tidak bisa hanya dari atas mimbar saja, melainkan harus ada realitanya. Kekristenan itu hal berbuat dan juga tentang hal keteladanan. Jika setiap orang Kristen, baik dia itu hamba Tuhan atau kaum awam yang dapat melakukan tindakan kristiani sekecil apapun, maka Tuhan dapat melakukan banyak perkara besar melalui kehidupan dan pelayanannya.

Demikian juga, gereja Tuhan bukan sekedar tempat berkumpul, namun gereja juga harus ikut bergerak dalam kehidupan jemaatnya. Meskipun hal berbuat ini bukan hanya tugas gereja semata. Dengan gerakannya yang nyata, gereja dapat membawa jemaat untuk ikut bersama membangun kerajaan Allah di dunia ini. Dengan demikian Tuhan Yesus dipermuliakan di tengah orang-orang yang juga belum percaya kepada-Nya.

Saudaraku, bagaimana sikap dan tindakan hidup Anda sebagai orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus? Sudahkah kehidupan Anda sehari-hari melakukan tindakan nyata yang memberkati bagi orang-orang di sekitar Anda? Tunjukkanlah iman Anda melalui perbuatan nyata. RDM

KEKRISTENAN BUKAN AGAMA, TETAPI GAYA HIDUP YANG BERDAMPAK POSITIF

16 Februari 2013 – Sang Pendoa Sejati

Baca: Markus 1:35-39
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

Salah satu fakta dari kehidupan Tuhan Yesus ialah, Ia suka pergi ke tempat-tempat yang sunyi seperti bukit untuk berdoa seorang diri. Pada saat Yesus hadir di bumi sebagai manusia, selain melakukan pekerjaan selayaknya manusia pada umumnya, Ia juga banyak menghabiskan waktu untuk berdoa. Tidak salah jika kita sebut Ia pendoa sejati. Ia mengajar murid-murid-Nya mengenai Doa Bapa kami dan Ia juga memberi teladan dalam hal berdoa.

Alkitab banyak menjelaskan bahwa berdoa merupakan kebiasaan Tuhan Yesus. Dari awal kehidupan Tuhan Yesus sampai akhir pelayanan-Nya di bumi. Ketika Ia di atas kayu salib, Ia pun juga masih berdoa kepada Bapa. Yang luar biasa, ditengah-tengah kesibukan pelayanan-Nya memberitakan injil, mengajar dan menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan-setan, Yesus menyempatkan diri-Nya untuk berdoa. Hal ini menunjukkan Ia terbiasa berdoa setiap hari. Faktanya sekalipun Ia maha kuasa dan memiliki kuasa rohani yang besar, tetapi dengan kerendahan hati Ia datang kepada sumber kekuatan, yaitu Bapa sorgawi. Yesus sujud kepada Bapa untuk memohon kasih karunia-Nya pada waktu Ia memerlukan pertolongan. Melalui doa, Tuhan Yesus berkomunikasi dengan Bapa. Melalui kebiasaan doa tersebut, Yesus sedang mengajar kepada kita mengenai sebuah gaya hidup orang percaya.

Sahabat Gandoem Mas, Yesus telah memberikan teladan tentang pentingnya berdoa. Sebagai murid-murid-Nya mari mengikuti teladan-Nya. Terlebih kita manusia yang lemah, justru doa adalah kekuatan kita. YN

YESUS ADALAH TELADAN SANG PENDOA SEJATI, MAKA JADIKAN DOA SEPERTI NAFAS HIDUP KITA

6 Februari 2013 – Wartakan Hidup Anda

Baca: Kisah Para Rasul 26:24-32
“Jawab Agripa: Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” (Kisah Para Rasul 26:28)

Seorang ilmuan bernama Thomas Huxley (1825-1895) sangat mendukung teori Evolusi. Sehingga ia mendapat julukan “Buldognya Darwin.” Sebagai seorang agnostik, ia percaya bahwa agama adalah takhayul yang berbahaya. Suatu hari Huxley bertanya kepada seorang Kristiani yang sangat taat, “Apa arti imanmu?” orang itu tahu bahwa Huxley adalah orang yang berpendidikan. Dengan tulus hati, orang itu menceritakan arti Yesus bagi dirinya. Huxley begitu tersentuh dan tidak mampu mendebatnya, dengan tulus ia berkata, “Saya kagum akan iman Anda kepada Yesus.”

Kisah di atas memberi pelajaran bahwa pendidikan atau kepandaian seseorang tidak dapat menghalanginya untuk mengenal Allah yang benar. Demikian halnya ketika rasul Paulus berdiri di hadapan raja Agripa untuk menceritakan kesaksian hidupnya yang diubahkan oleh Yesus Kristus. Raja Agripa sangat tersentuh ketika mendengarnya. “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Ketahuilah, kesaksian sederhana tentang hidup Anda yang telah diubah Kristus, dapat dipakai Allah sebagai sarana yang efektif untuk menggugah hati orang lain supaya mereka percaya. Terkadang kesaksian hidup kita yang telah mengalami perjumpaan dengan Kristus secara pribadi, lebih efektif daripada penjelasan ilmiah. Berapa banyak orang disekeliling Anda yang membutuhkan kesaksian hidup Anda? Bukan melalui perkataan, tetapi melalui teladan hidup Anda.

Sahabat Gandoem Mas, jangan pernah ragu ketika Anda berhadapan dengan sesama untuk menceritakan arti Yesus Kristus di dalam hidup Anda. Sudahkah Anda mewartakan kesaksian hidup Anda? Belum terlambat jika Anda bersedia memulainya.YN

JIKA ANDA DIBERI KESEMPATAN, CERITAKANLAH KARYA KRISTUS DI DALAM HIDUP ANDA

GM 14 Okt 2012 – Memenuhi Hukum Kristus

Baca: Kisah Para Rasul 2:41-47
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Ketika hidup kita damai dalam kesatuan dengan saudara-saudara, hal itu menyenangkan Allah. Ketika kita hidup saling mengasihi dan melayani sesama, hal itu menghormati Dia. Saat kita saling menanggung beban, kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi sesama.
Apa artinya ‘menanggung beban sesama’? Ada banyak cara menanggung beban sesama, antara lain: Dengan memberikan kata kata dorongan semangat, memberikan senyuman, berdoa untuk mereka, ikut secara langsung membantu kesulitan mereka, membayar rekening mereka yang tertunggak, dan banyak cara lain.

Setiap kali Anda memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan, Alkitab mengatakan bahwa Anda sedang melakukannya untuk Tuhan sendiri!
“…. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)
Belajar cara hidup gereja yang mula-mula, saling menolong dan memperhatikan adalah sebuah gaya hidup yang baik (ayat 45). Sesuatu yang dilakukan secara wajar dan spontan, tanpa keberatan. Tetapi sebaliknya, dilakukan dengan sukacita. Dan, ketika gaya hidup itu diteruskan, mereka lebih menghayati dan menikmati hidup sebagai anak-anak Tuhan (ayat 46). Mereka pun disukai semua orang (ayat 47), sebagai bukti bahwa apa yang mereka lakukan menyukakan sesama. Dan tentunya menyukakan hati Tuhan. Kiranya kita meneladani gaya hidup ini dalam hidup kita sehari-hari, demi memuliakan nama Tuhan. TL

DENGAN MENANGGUNG BEBAN SESAMA, KITA DAPAT MEMENUHI HUKUM KRISTUS

GM 1 Okt 2012 – Menjadi Teladan

Baca: I Tesalonika 1:2-10
“Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.” (1 Tesalonika 1:4)

Ketika rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Tesalonika, ia mengawali suratnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan karena pekerjaan iman mereka, usaha kasih mereka, dan ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan (ayat 3). Dengan kata lain, jemaat Tesalonika telah menjadi teladan bagi semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. (1 Tesalonika 1:7) Yang menjadi tolok ukur iman kita, adalah: Bagaimana orang melihat hidup Anda? Apakah mereka melihat kasih Allah di dalam diri Anda? Apakah mereka melihat perubahan dalam hidup Anda? Apakah mereka melihat Anda sebagai pengikut Kristus yand sejati? Bagaimana kesaksian hidup Anda melalui perkataan dan perbuatan Anda setiap hari?

Ketika kita menerima kasih Allah, kasih itu akan merubah kehidupan kita. Kasih itu akan memberi dorongan kepada kita untuk berubah hari demi hari dalam kehidupan kita. Kasih itu membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi. Kasih Allah itu nyata dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita! Dan yang terutama, kasih Allah melalui hidup Anda akan menarik orang- orang datang kepada Tuhan! Kasih-Nya nyata dalam hidup Anda, ketika Anda mengikuti perintah-perintah-Nya dan kemudian ketika Anda menyatakan kasih-Nya kepada orang lain! (1 Yohanes 2:3-4).

Sudahkah Anda menjadi teladan bagi keluarga, tetangga, dan komunitas Anda? Tanyakan pada diri Anda seniri. Jika belum, mari berubah sekarang dan jadilah teladan bagi semua orang di mana pun Anda berada. TL
PANGGILAN HIDUP KITA ADALAH MEMBERIKAN KEMULIAAN BAGI TUHAN