Tag Archives: Yesus

18 Juni 2014 – Jalan Dan Kebenaran

Baca: Yohanes 14:1-7
“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang punyang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Ketika beberapa orang memperbincangkan tentang jalan ke Sorga, salah seorang berkata: jalan ke Sorga itu seperti ke Surabaya, bisa lewat utara, tengah atau selatan. Dan yang lain menambahkan: ya benar seperti pepatah “Banyak jalan menuju ke Roma.” Sehingga di dunia ini banyak jalan yang dipercayai dapat mengantar manusia menuju ke Sorga. Padahal tidak ada pesawat, kapal, bus, kereta jurusan Sorga. Jadi ke Sorga tidak bisa disamakan dengan ke Surabaya atau ke Roma.
Sebab itu Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan …” Artinya Tuhan Yesus tahu persis jalan menuju rumah Bapa di Sorga dan pasti bisa mengantar kita ke tempat itu, karena Ia sendiri telah masuk ke tempat kudus Bapa dengan darah-Nya. Dan Tuhan Yesus melanjutkan berkata: Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Artinya hanya Tuhan Yesus jalan ke rumah Bapa di Sorga. Ada perbedaan besar antara orang yang mengajarkan tentang kebenaran dan orang yang hidup dalam kebenaran. Kebenaran tidak cukup untuk diajarkan, tetapi harus dilakukan dalam perbuatan dan kehidupan nyata. Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kebenaran, tetapi Ia sendiri hidup dalam kebenaran, karena Ia adalah perwujudan kebenaran itu sendiri. Ketika Pontius Pilatus mengadili Tuhan Yesus, ia tidak menemukan kesalahan pada Pribadi Tuhan Yesus. “Lihatlah, aku membawa Dia keluar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.” (Yohanes 19:4)
Apakah Anda sungguh-sungguh percaya, bahwa hanya Tuhan Yesus jalan ke Sorga? Dan apakah kita sungguh-sungguh percaya, bahwa Tuhan Yesus kebenaran yang sejati? DS

BANYAK JALAN MENUJU KE ROMA, TETAPI HANYA ADA SATU JALAN MENUJU KE SORGA

14 Mei 2014 – Mata Air Hidup

Baca: Yohanes 7:37-39
“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14)

Setiap orang yang merasa haus, pasti akan mencari air untuk diminum dan memuaskan dahaganya. Saat seperti itu, setiap orang punya pilihan akan air apa yang hendak dia minum. Ada yang memilih minuman dingin, manis, soda dan sebagainya. Setelah minum pastilah sangat menyegarkan. Namun, beberapa jam kemudian, akan merasa haus lagi dan tentunya akan mencari air lagi untuk diminum. Seperti yang Yesus katakana kepada perempuan Samaria “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi”, dan memang demikianlah seterusnya yang terjadi.
Namun sungguh luar biasa, Yesus mengatakan “barangsiapa minum air yang Kuberikan, ia tidak akan haus untuk selamanya-lamanya. Tetapi air itu akan menjadi mata air hidup di dalam dirinya.” Karena itu, kata-Nya lagi “barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Hal ini berarti, dengan sangat mudah setiap orang bisa memiliki ‘mata air hidup’ yang akan terus dapat mengalir selamanya dalam hidupnya. Sebab orang tersebut menerimanya dari sumber air hidup itu sendiri yaitu Yesus.
Dia memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang, tetapi siapa yang mau datang dan minum maka dialah yang akan memilikinya. Sebab saat kita percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, Roh Kudus diberikan-Nya dalam hati kita. Sehingga aliran-aliran air hidup itupun akan mengalir dari hati kita oleh kuasa Roh Kudus yang ada di dalam kita. Sudahkah Anda memiliki mata air hidup itu dalam hati Anda? Renungkanlah! EJG

MINUMLAH AIR YANG YESUS BERIKAN KEPADAMU, MAKA MATA AIR HIDUP ITU ADA DI DALAM HATIMU

28 Maret 2014 – Dasar Yang Benar

Baca: Lukas 6:46-49
“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita.” (1 Timotius 1:1)

Banyak orang kristen yang berusaha membangun kehidupan mereka tanpa memiliki dasar yang teguh sehingga ketika terjadi goncangan maka bangunan yang mereka bangun akan terhempas. Banyak gereja terutama yang sangat memfokuskan pada pertumbuhan jemaat secara kuantitas mendorong jemaat mereka untuk melayani tanpa terlebih dahulu membangun pondasi yang kuat. Ada banyak orang yang tidak mempunyai dasar yang benar dalam melayani. Ketika apa yang dilakukannya tidak dihargai, tidak dianggap dan kemudian marah dan kecewa. Sikap tersebut merupakan contoh bahwa dasarnya tidak benar. Bukankah kita melayani Tuhan dan bukan manusia?
Apa yang Yesus ajarkan agar kita mempunyai dasar yang kuat? Yesus mengajarkan bahwa firman Tuhan yang membuat kita kokoh (Lukas 6:46-49). Firman Tuhan, jika kita pelajari semua berujung kepada Kristus. Semua karya-karya Tuhan dalam hidup kita semua membawa kepada kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itulah Yesus, secara khusus kepada para murid-murid-Nya mengajarkan tentang sebuah dasar yang dapat membuat hidup mereka tetap kokoh dalam mengiring Tuhan, yaitu, mendengar dan melakukan perkataan-Nya. Begitu juga Paulus, di awal suratnya yang di tujukan kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa Yesus Sang Juruselamat adalah dasar pengharapan (1 Timotius 1:1).
Mari, sebagai anak-anak Tuhan jadikanlah Yesus sebagai dasar. Jangan berhenti bekerja untuk Tuhan, sekalipun teman, keluarga, rekan dan bahkan orang terdekat Anda tidak menghargainya. Karena Anda melakukannya untuk kemuliaan Tuhan. Biar Tuhan sendiri yang menilainya. Teruslah maju. SP
KITA TIDAK AKAN BERHENTI BERKARYA BAGI TUHAN, JIKA YANG KITA LAKUKAN UNTUK KEMULIAAN-NYA

11 Februari 2014 – Sukacita Di balik Dukacita

Baca: Lukas 7:11-17
“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (I Tesalonika 4:13)

Sadar atau tidak, hidup selalu mengalami dinamika kehidupan. Terkadang mengalami pasang surut, ada saat tenang dan saat tegang. Ada saat sukacita dan ada dukacita. Bagaimana sikap dan respons kita sebagai orang percaya, sekalipun hidup kadang tak sesuai harapan?
Injil Lukas mencatat, Yesus sedang pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Yesus dan murid-murid-Nya, juga orang banyak menjumpai orang-orang yang mengusung anak muda, anak tunggal dari seorang janda, tumpuan harapannya. Tidak heran jika sepanjang perjalanan ia menangis karena kehilangan anak satu-satunya. Perasaan kehilangan sangat wajar dan setiap orang mengalaminya bukan? Bagaimanakah dengan nasib janda ini? Orang-orang di kota itu tidak bisa berbuat apa-apa. Harapan janda ini pupus sudah. Hidupnya dirundung dukacita. Kedukacitaan janda ini berubah seketika, saat ia bertemu dengan Yesus. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan terhadap persoalan janda Nain ini. Suasana hati yang sedih dan raut wajah yang berlinang air mata mengiring peti jenazah anaknya, berubah menjadi sukacita, sebab anaknya telah bangkit. Reaksi yang terjadi ialah sebagian orang ketakutan dan sebagian memuliakan Allah karena Allah telah melawat umat-Nya.
Apa pun masalah yang menyebabkan Anda berdukacita, Yesus sanggup mengubahnya menjadi sukacita. Belas kasihan-Nya telah menembus kemustahilan dan ketidakmungkinan. Yesus yang sama, yang telah merubah dukacita janda itu menjadi sukacita, juga sanggup merubah dukacita Anda. YN

YESUS HADIR MEMBERI PENGHARAPAN DITENGAH KEMUSTAHILAN DAN SUKACITA DI BALIK DUKACITA

23 Januari 2014 – Yesus Sumber Sukacita

Baca: Matius 6:19-24
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19)

Oktober 2013 yang lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kasus suap ketua MK. Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai milyaran rupiah. Apa yang membuatnya melakukan hal yang tidak terpuji tersebut? Gaji? Ternyata tidak. Sebuah artikel yang saya kutip dari sumber kompasiana online, di kolom SosBud, dengan judul artikel Fakta gaji ratusan juta hakim MK, tapi tetap saja korupsi, menyebutkan bahwa penghasilan halal MK mencapai lebih dari 200 juta, yang terdiri dari gaji pokok dan honor-honor putusan sidang, dan juga tunjangan-tunjangan, namun toh tidak membuatnya merasa cukup. Mungkin uang yang berlimpah-limpah dan kekayaan yang banyak menjadi standart rasa bahagianya. Tetapi akibatnya kita melihat, aparat pemerintah menetapkannya sebagai terdakwa kasus suap.
Yesus sudah mengingatkan agar tidak mengumpulkan harta di bumi. Di bumi merupakan tempat yang tidak aman untuk menyimpan harta. Maksud Tuhan Yesus, bukan berarti kita tidak boleh memikirkan masa depan, melainkan prioritas hidup orang percaya tidak boleh tertuju hanya untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Jika hal itu menjadi tujuan, bukan saja kemudian manusia mengabaikan pertolongan Tuhan dan tidak mengandalkan-Nya, tetapi akan mendorong orang untuk melakukan segala cara asal dapat mengulkan harta.
Filsuf Socrates mengakui bahwa ia suka mengunjungi pasar, bukan berarti ia suka belanja. “Saya suka pergi ke sana dan menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yang ada di sana.” Kata Socrates. Apa dasar bahagia Anda? Harta? Kemewahan? Biar Yesuslah yang menjadi sumber sukacita kita. SP

SUKACITA ORANG PERCAYA, TIDAK BERSUMBER KEPADA HARTA, MELAINKAN KEPADA TUHAN YESUS